Topeng merupakan media atau alat
utama yang digunakan oleh orang-orang Suku Asmat di Papua dalam upacara yang
disebut Pesta Roh atau Pesta Topeng. Dalam istilah orang Asmat, pesta ini
disebut dengan mamar atau bunmar pokbui. Pesta Roh ini bertujuan untuk
memperingati roh keluarga dekat yang telah meninggal dunia. Menurut cerita,
upacara mamar bermula dari sebuah peristiwa yang dialami oleh seorang anak
yatim piatu. Peristiwa apakah yang dialami oleh anak itu sehingga upacara Pesta
Roh menjadi tradisi dalam Suku Asmat? Ikuti kisahnya dalam cerita Topeng dan
Pesta Roh berikut ini.
Alkisah, di sebuah kampung di
hulu Sungai Sirets di pedalaman Merauke, Papua, hiduplah seorang anak yatim
piatu atau yang biasa panggil si Yatim. Anak itu menjadi sebatang kara karena
dusunnya diserang oleh kampung lain sehingga menyebabkan seluruh keluarganya
meninggal dunia. Kini, si Yatim hidup sendiri di sebuah rumah yang sudah hampir
roboh. Hidupnya sungguh memprihatinkan. Setiap hari ia selalu menyendiri karena
tidak disenangi oleh warga tanpa alasan yang jelas. Walaupun penduduk di
kampung itu hidup makmur, namun tak seorang pun dari mereka yang mau membantu
si Yatim.
Nasib si Yatim semakin parah
ketika suatu hari ia dituduh mencuri makanan dan barang-barang milik penduduk
kampung tanpa disertai dengan bukti. Saat ia mengelak, warga justru hendak
menghukumnya. Karena merasa tidak bersalah, si Yatim pun melarikan diri
meninggalkan kampungnya. Melihat si Yatim melarikan diri, seorang warga
langsung berteriak.
“Ayo, kejar anak itu!”
Orang-orang segera mengejar si
Yatim beramai-ramai untuk menangkapnya. Sedangkan si Yatim terus berlari
ketakutan masuk ke dalam hutan. Saat tiba di tengah hutan, ia beristirahat
sejenak di bawah sebuah beringin yang rindang. Di situlah ia berpikir bahwa
kalau ia terus berlari maka dirinya pasti akan tertangkap. Akhirnya, si Yatim
memutuskan untuk bersembunyi di atas pohon beringin tersebut.
“Ah, sebaiknya aku bersembunyi di
atas pohon ini. Aku yakin, mereka tidak akan melihatku,” gumamnya seraya
memanjat pohon beringin itu.
Setelah berada di atas pohon, si
Yatim kemudian bersembunyi di balik rerimbunan daun dan jumbaian akar-akar
beringin. Tak lama kemudian, orang-orang yang mengejarnya tiba dan berhenti
sejenak di bawah pohon beringin itu karena kehilangan jejak.
“Hai, lari ke mana anak itu?”
celetuk salah seorang dari mereka, kebingungan.
Penduduk yang lain pun sama
bingungnya. Sementara itu, si Yatim yang bersembunyi di atas pohon beringin
merasa ketakutan kalau-kalau keberadaannya diketahui oleh orang-orang yang
mengejarnya. Untung para penduduk segera meninggalkan tempat itu untuk
melanjutkan pengejaran sampai ke dalam hutan. Setelah aman, si Yatim pun keluar
dari persembunyiannya dengan perasaan lega. Ia kemudian duduk di salah satu
cabang pohon beringin itu untuk melepaskan lelah.
Hari sudah gelap. Anak sebatang
kara itu masih saja duduk melamun di atas pohon. Tampaknya si Yatim sedang
bingung memikirkan bagaimana cara membuat penduduk kampung tidak lagi
mengejarnya. Akhirnya, si Yatim menemukan sebuah ide, yaitu ia ingin
menakut-nakuti para penduduk dengan mengenakan topeng yang menyeramkan. Ketika
hendak turun dari pohon itu untuk mencari akar-akar kayu yang akan dibuat
topeng, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sesosok makhluk menyeramkan yang berdiri
di cabang pohon beringin yang lain. Rupanya, makhluk itu adalah roh penunggu
pohon beringin itu.
“Hai, anak manusia! Kamu siapa
dan kenapa kamu berada di atas pohon ini?” tanya makhluk itu.
“Sa... saya si Yatim,” jawab si
Yatim piatu dengan gugup karena ketakutan.
Bocah itu kemudian menceritakan
semua peristiwa yang dialaminya hingga ia berada di atas pohon beringin itu.
Makhluk penunggu pohon beringin itu pun merasa iba terhadap nasib yang dialami
si Yaitm. Meskipun wajahnya tampak menakutkan, makhluk itu ternyata baik hati.
Ia kemudian memberikan makanan dan minuman kepada si Yatim. Akhirnya, mereka
pun bersahabat.
Setelah itu, si Yatim turun dari
atas pohon untuk mencari akar-akar pohon yang akan dianyam menjadi sebuah
topeng yang menyerupai roh penunggu pohon beringin itu. Membuat topeng seperti
itu tidaklah mudah bagi si Yatim. Ia membutuhkan waktu sekitar lima hari baru
bisa menyelesaikannya. Setelah selesai, topeng itu ia pakai dan kemudian
bercermin di air. Betapa senangnya hati si Yatim karena topeng hasil buatannya
benar-benar menyerupai wajah roh penunggu pohon beringin itu.
“Aku yakin, para penduduk pasti
akan ketakutan melihatku,” gumamnya.
Ketika hari mulai gelap, si Yatim
pergi ke perkampungan dengan mengenakan topeng dan menyelinap masuk ke salah
satu rumah penduduk. Penghuni rumah itu pun langsung lari terbirit-birit karena
ketakutan.
“Tolong...! Tolong...! Ada
setaaaan...!” teriak penduduk yang ketakutan itu.
Mendengar teriakan tersebut, penduduk kampung
lainnya segera berhamburan keluar rumah dan mengerumuni warga yang berteriak
itu.
“Hai, apa yang terjadi denganmu?”
tanya kepala kampung.
“Ada setan di dalam rumahku.
Sungguh, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Wajahnya sangat
menyeramkan” jelas warga itu.
Mendengar keterangan tersebut,
kepala kampung segera memerintahkan seluruh warganya agar mengumpulkan sagu
untuk dipersembahkan kepada makhluk itu dengan harapan makhluk itu meninggalkan
kampung mereka. Para warga pun segera pulang ke rumah mereka masing-masing
untuk mengambil sagu. Namun, setelah mereka kembali menemui kepala kampung, tak
seorang pun yang membawa sagu. Ternyata, persediaan sagu di desa tersebut telah
habis.
“Kalau begitu, besok pagi-pagi
sekali kalian pergi ke hutan untuk memangkur sagu,” ujar kepala kampung.
Pada keesokan harinya, semua
orang di kampung itu beramai-ramai berangkat ke hutan. Sementara itu, si Yatim
pun segera menyusun siasat. Ia akan menakut-nakuti orang-orang yang memangkur
sagu di dekat pohon beringin tempat ia bersembunyi. Ketika hari mulai gelap, si
Yatim menutupi jalan setapak di dekat pohon beringin itu dengan dahan-dahan pohon.
Jalan itu nantinya akan dilewati oleh para pemangkur sagu saat hendak pulang ke
perkampungan. Selesai menutupi jalan, si Yatim segera memakai topengnya lalu
bersembunyi di balik semak belukar yang ada di bawah pohon beringin.
Tak lama kemudian, tampak serombongan
wanita yang membawa sagu hendak melintasi jalan setapak itu. Melihat jalan
terhalang oleh dahan-dahan pohon beringin, rombongan wanita itu terpaksa
berhenti dan meletakkan sagu mereka di tanah. Pada saat mereka sibuk
membersihkan dahan-dahan yang menghalangi jalan, si Yatim membuat suara
menakutkan lalu muncul dari semak belukar dengan memakai topeng. Tak ayal,
rombongan wanita pembawa sagu itu langsung berteriak ketakutan.
“Ada setaaan...! Ada setaaan...!”
teriak rombongan wanita itu saat melihat topeng yang amat menyeramkan.
Rombongan wanita itu pun lari
terbirit-birit dan meninggalkan sagu-sagu mereka. Melihat rombongan wanita itu
telah pergi, si Yatim segera membuka topengnya lalu mengambil sagu-sagu
tersebut untuk dibawa ke tempat persembunyiannya. Ia kemudian membakar sagu itu
dan memakannya sampai kenyang.
Sejak itu, si Yatim selalu
menakut-nakuti setiap warga yang melintasi jalan itu dan mengambil sagu-sagu
mereka. Hal itu ia lakukan untuk membuat orang-orang kampung yang dulu
menganiaya dirinya semakin jera. Sementara itu, penduduk kampung menjadi resah
dengan kejadian-kejadian menyeramkan yang sering mereka alami.
“Sebenarnya makhluk apa yang suka
menakut-nakuti kita itu?” tanya seorang warga.
Tak seorang pun warga
mengetahuinya. Karena penasaran, mereka bersepakat untuk menjebak makhluk itu.
Suatu hari, serombongan wanita diperintahkan untuk pergi memangkur sagu ke
dalam hutan. Sementara itu, sejumlah kaum laki-laki yang kuat dan pemberani
diperintahkan untuk mengintai makhluk itu saat melakukan aksinya. Ketika para wanita
pulang dan menemukan dahan-dahan yang menghalangi jalan, makhluk yang tidak
lain adalah si Yatim bertopeng itu segera menakut-nakuti mereka. Setelah
rombongan pemangkur itu lari meninggalkan sagu mereka, anak yatim piatu itu
segera membuka topengnya. Ia tak sadar jika ada sejumlah orang yang
mengintainya.
“Hai, lihat!” seru seorang warga
saat melihat wajah di balik topeng itu, “Oh, rupanya makhluk itu ternyata si
anak yatim piatu yang selama ini kita kejar.”
Ketika si Yatim hendak mengambil
sagu-sagu yang tergeletak di tanah, penduduk kampung keluar dari tempat
persembunyian mereka dan segera mengepung bocah itu.
“Mau lari ke mana kamu, hai anak
yatim?!” hardik seorang warga.
Si Yatim akhirnya tertangkap
basah oleh penduduk dan tidak dapat berbuat apa-apa. Ia pun digiring ke
perkampungan untuk diadili secara adat. Namun, sebelum memasuki perkampungan,
si Yatim tiba-tiba hilang secara gaib. Orang-orang kampung yang menggiringnya
hanya terperangah menyaksikan peristiwa itu.
Sejak si Yatim menghilang, para
penduduk merasa sudah aman karena tak ada lagi orang yang menakut-nakuti
mereka. Namun, setiap kali melintas di dekat pohon beringin itu mereka masih
saja sering diganggu oleh roh si Yatim. Untuk menghalau roh itu, mereka pun
membuat topeng yang menyerupai topeng si Yatim. Sejak itu, topeng seperti itu
digunakan dalam sebuah ritual yang dikenal dengan Pesta roh atau Pesta Topeng
yang oleh masyarakat setempat disebut dengan mamar atau bunmar pokbui.
Kini, ritual Pesta Roh sudah
menjadi tradisi masyarakat Suku Asmat untuk memperingati roh keluarga dekat
mereka yang telah meninggal dunia. Jenis topeng yang mereka gunakan pun
bervariasi. Tidak saja terbuat dari akar-akar kayu, tetapi juga dari
belahan-belahan rotan atau kulit kayu fum (genemo hutan). Jenis topeng yang
terbuat dari rotan disebut manimar, sedangkan topeng yang terbuat dari kulit
kayu fum disebut ndat jamu.
Demikian cerita Topeng dan Pesta
Roh dari daerah Papua. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas
adalah orang yang menganiaya anak yatim piatu seperti halnya penduduk kampung
dalam cerita di atas akan mendapat balasan yang setimpal atas perbuatan mereka.
Oleh karena telah mengganggu si Yatim, para penduduk kampung selalu mendapat
gangguan dari roh si Yatim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar