Biwar adalah seorang pemuda
tampan dan gagah perkasa dari daerah Mimika, Papua, Indonesia. Ketika ia masih
dalam kandungan, ayahnya tewas diserang oleh seekor naga saat mengarungi sebuah
sungai di daerah Tamanipia. Oleh karenanya, sejak lahir ia dirawat dan dididik
oleh ibunya seorang diri dengan dibekali berbagai ilmu pengetahuan. Setelah
dewasa, Biwar bermaksud untuk membinasakan naga yang telah melenyapkan nyawa
ayahnya. Bagaimana cara Biwar membinasakan naga yang ganas itu? Ikuti kisahnya
dalam cerita Biwar Sang Penakluk Naga berikut ini!
Alkisah, di daerah Mimika, Papua,
terdapat sebuah kampung yang dihuni oleh sekelompok suku Mimika. Mata
pencaharian penduduk tersebut adalah memangkur sagu yang telah diwarisi secara
turun-temurun dari nenek moyang mereka. Setiap hari, baik kaum laki-laki maupun
perempuan, memangkur sagu di sepanjang aliran sungai di daerah itu.
Suatu hari, beberapa orang dari
penduduk kampung tersebut hendak mencari sagu dengan menggunakan perahu. Selain
membawa alat berupa kapak dan pangkur,[1] mereka juga membawa bekal berupa
makanan dan minuman karena kegiatan memangkur sagu tersebut memerlukan waktu
sekitar dua sampai tiga hari.
Setelah beberapa lama melayari
sungai, tibalah mereka di suatu tempat yang banyak ditumbuhi pohon sagu. Dengan
penuh semangat, kaum laki-laki mulai menebang pohon sagu yang sudah bisa
diambil sari patinya. Setelah rebah, pohon sagu itu mereka kuliti untuk
mendapatkan hati sagu yang berada di dalamnya. Kemudian hati dari pohon itu
mereka tumbuk hingga menyerupai ampas kelapa dengan menggunakan pangkur. Hasil
tumbukan itulah yang disebut dengan sagu. Selanjutnya, sagu tersebut mereka
kumpulkan pada sebuah wadah bambu yang sudah dibelah, lalu mencampurinya dengan
air.
Setelah itu, kaum perempuan
segera memeras sagu itu. Air perasan inilah yang mengandung sari pati sagu.
Untuk mendapatkan sari pati tersebut, air perasan mereka biarkan beberapa saat
hingga sari patinya mengendap di dasar wadah bambu. Setelah air perasan berubah
dari warna putih menjadi jernih, air yang jernih tersebut mereka buang hingga
yang tersisa hanyalah endapan inti sagu. Inti sagu itu kemudian mereka bentuk
seperti bola tenis atau memanjang seperti lontong. Selanjutnya, sagu-sagu yang
sudah siap dimasak tersebut mereka masukkan ke dalam wadah yang disebut dengan
tumang, yaitu keranjang yang terbuat dari rotan.
Setelah menaikkan semua tumang
yang berisi sagu tersebut ke atas perahu, rombongan itu pun berlayar menyusuri
sungai untuk kembali ke perkampungan. Saat perahu yang mereka tumpangi melewati
sungai di daerah Tamanapia, tiba-tiba seeokar naga muncul dari dalam air dan
langsung menyerang mereka. Hanya sekali kibas, ekor naga itu mampu
menghancurkan perahu itu hingga berkeping-keping. Tak ayal, seluruh
penumpangnya terlempar dan tenggelam di sungai, kecuali seorang perempuan yang
sedang hamil dapat menyelamatkan diri.
Kebetulan perempuan hamil mampu
meraih salah satu kepingan perahu yang telah hancur saat ia terlempar ke
sungai. Kepingan perahu itulah kemudian ia jadikan sebagai pelampung hingga
dapat sampai ke tepi sungai dan melarikan diri masuk dalam hutan. Untuk
berlindung dari binatang buas, perempuan hamil itu tinggal di dalam sebuah gua
yang ia temukan dalam hutan tersebut. Dalam keadaan hamil tua, perempuan yang
malang itu berusaha mencari daun-daun muda dan umbi-umbian untuk bisa bertahan
hidup.
Suatu hari, dengan susah payah
perempuan itu berjuang melahirkan seorang diri. Atas kuasa Tuhan, ia berhasil
melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan dan diberinya nama Biwar. Kini,
perempuan itu tidak lagi kesepian tinggal di tengah hutan tersebut. Ia pun
merawat dan membesarkan Biwar dengan penuh kasih sayang. Saat Biwar tumbuh
menjadi remaja, ia mengajarinya berbagai ilmu seperti cara memanah, menangkap
binatang, dan membuat api. Selain itu, ia juga mengajari Biwar bermain tifa[2]
hingga mahir memainkan alat musik tersebut.
Beberapa tahun kemudian, Biwar
telah tumbuh menjadi pemuda yang tampan, kuat, dan gagah perkasa. Setiap hari
ia membantu ibunya mencari lauk dengan cara memancing ikan di sungai. Ia juga
membantu ibunya membuat sebuah rumah sederhana yang disebut dengan honai, yaitu
rumah adat masyarakat Papua yang terbuat dari kayu dengan atap berbentuk
kerucut dari jerami atau ilalang.
Suatu hari, Biwar baru saja
pulang dari memancing di sungai dengan membawa beberapa ekor ikan besar. Setiba
di depan rumahnya, ia meletakkan ikan hasil tangkapannya itu di tanah seraya
berteriak memanggil ibunya.
“Mama..., Mama..., keluarlah
lihat! Biwar membawa ikan yang besar-besar,” teriak Biwar.
Mendengar teriakan itu, ibunya
pun keluar dari dalam rumah seraya bertanya, “Dari mana kamu dapatkan ikan itu,
Anakku?”
“Tadi Biwar memancingnya di
sebuah sungai yang dalam. Sungai itu banyak sekali ikannya dan pemandangan di
sekitarnya amat indah,” ungkap Biwar, “Jika Mama ingin melihatnya, besok Biwar
akan tunjukkan tempat itu.”
Sang ibu menerima ajakan Biwar.
Keesokan hari, berangkatlah mereka ke sungai yang dimaksud. Alangkah
terkejutnya ibu Biwar saat tiba di sungai itu. Ia langsung teringat kepada
almarhum suaminya.
“Biwar, Anakku! Ketahuilah, ayahmu
beserta keluarga dan teman-taman Mama tewas di sungai itu karena diserang oleh
seekor naga!” ungkap sang ibu mengenang masa lalunya yang amat memilukan hati.
Mendengar kisah sedih ibunya,
Biwar bertekad untuk membinasakan naga itu. Namun, sang ibu mencegahnya.
“Tapi, Biwar! Naga itu sangat
ganas,” cegah ibunya.
“Tidak Mama. Bukankah Mama telah
mengajarkan Biwar berbagai ilmu? Dengan ilmu itulah Biwar akan membinasakan
naga yang menghilangkan nyawa Papa,” tegas Biwar.
Sang ibu tidak mampu membendung
tekad keras Biwar. Sebelum melaksanakan tekadnya, Biwar bersama ibunya pulang
ke rumah untuk menyiapkan semua senjata yang diperlukan. Setelah menyiapkan
tombak, golok, dan panahnya, Biwar pun berpamitan kepada ibunya untuk pergi
mencari sarang naga itu di sekitar sungai.
“Hati-hati, anakku!” ujar
mama-nya.
“Baik, Mama,” jawab Biwar seraya
meninggalkan ibunya.
Setiba di tepi sungai, Biwar
melihat sebuah gua yang diduga sebagai tempat persembunyian naga itu.
“Aku yakin naga itu pasti
bersembunyi di dalam gua ini,” gumam Biwar.
Dengan langkah perlahan-lahan,
Biwar mendekati gua itu. Sesampai di depan mulut gua, ia segera mengambil tifa
yang diselipkan di pinggangnya lalu meniupnya untuk memancing naga itu agar
keluar dari dalam gua. Alunan musik tifa yang dimainkan Biwar benar-benar
menarik perhatian sang naga. Tak berapa lama kemudian, terdengarlah suara
gemuruh dari dalam gua.
Mendengar suara itu, maka semakin
yakinlah Biwar bahwa di dalam gua itulah sang naga bersarang. Ia pun segera
bersiap-siap dengan golok di genggamannya untuk berjaga-jaga kalau-kalau naga
itu datang menyerangnya. Ternyata benar, tak lama berselang, kepala naga itu
tiba-tiba muncul di mulut gua. Tanpa berpikir panjang, Biwar segera melemparkan
tombaknya ke arah kepala naga itu dan berhasil melukainya. Meskipun terluka
parah, naga itu masih terlihat ganas. Maka sebelum naga itu menyerangnya, Biwar
segera mencabut golok yang terselip di pinggangnya.
“Terimalah pembalasan dari ayah
dan keluargaku yang telah kau binasakan di sungai ini!” seru Biwar seraya
memenggal kepala naga itu hingga nyaris putus.
Tak ayal, naga itu jatuh terkulai
di depan mulut gua. Melihat hal itu, cepat-cepat Biwar menimbun tubuh naga itu
dengan bebatuan. Setelah memastikan naga itu benar-benar telah mati, ia pun
segera pulang ke rumahnya untuk memberitahukan keberhasilannya membinasakan
naga itu kepada ibunya. Betapa senangnya hati sang ibu mendengar berita gembira
tersebut.
“Naga telah menerima hukumannya.
Kini hati Mama sudah lega,” ucap ibunya, “Segeralah buat perahu anakku lalu
kita kembali ke perkampungan!”
Keesokan harinya, Biwar pun
membuat sebuah perahu kecil yang cukup ditumpangi mereka berdua. Dalam beberapa
hari, perahu itu pun selesai dibuatnya dan siap untuk digunakan. Akhirnya,
dengan perahu itu, Biwar bersama ibunya berlayar mengarungi sungai menuju ke
tanah kelahiran ibunya. Setiba di perkampungan, mereka pun disambut dengan
gembira oleh penduduk setempat. Untuk merayakan keberhasilan Biwar sebagai
pahlawan yang telah menaklukkan naga itu, mereka mengadakan pesta yang meriah.
Demikian cerita Biwar Sang
Penakluk Naga dari daerah Mimika, Provinsi Papua. Sedikitnya ada dua pesan
moral yang dapat dipetik dari cerita di atas yaitu keutamaan sifat sabar dan
pemberani. Sifat sabar ditunjukkan oleh ditunjukkan oleh perilaku ibu Biwar
yang senantiasa berjuang melahirkan dan membesarkan Biwar seorang diri di
tengah hutan. Berkat kesabarannya, ia berhasil mendidik Biwar menjadi seorang
pemuda yang gagah perkasa. Sementara itu, sifat pemberani ditunjukkan oleh
keberanian Biwar menghadapi seekor naga yang ganas. Dengan keberanian yang
dimiliki, ia berhasil membinasakan naga itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar