Batu Keramat terletak di atas
Gunung Kamboi Rama, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, Indonesia. Setiap setahun
sekali, masyarakat setempat mengadakan upacara pemujaan terhadap batu keramat
itu. Mengapa mereka mengeramatkan dan memuja batu itu? Siapakah yang pertama
kali menemukannya? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Legenda Batu Keramat
berikut.
Alkisah, di daerah Yapen Timur,
Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, Indonesia, terdapat sebuah gunung bernama
Kamboi Rama. Di atas gunung itu terdapat dua dusun, yaitu Dusun Kamboi Rama
yang dihuni oleh sekelompok manusia, dan Dusun Aroempi yang ditumbuhi tanaman
sagu milik seorang raja tanah yang bergelar Dewa Iriwonawani. Dewa Iriwonawani
juga memiliki sebuah tifah atau gendang gaib yang diberi nama sikerei atau
soworoi. Jika gendang itu berbunyi, para penduduk Dusun Kamboi Rama berkumpul
di Dusun Aroempi untuk menyaksikan gendang itu. Namun, tidak semua penduduk
dapat melihat gendang gaib itu, kecuali orang-orang tua yang memiliki kekuatan
gaib.
Untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari penduduk Kamboi Rama, kaum perempuan mencari sagu di Dusun Aroempi
milik Dewa Irowonawani, sedangkan kaum laki-laki mencari lauk sagu dengan cara
menangkap hewan di hutan. Setiap hari, perempuan Kamboi Rama secara berombongan
berangkat ke Dusun Aroempi untuk mencari sagu. Sebelum menebang pohon sagu,
terlebih dahulu mereka mengadakan upacara penghormatan kepada Dewa Irowonawani agar
mereka bisa memperoleh inti atau sari sagu yang bagus dan dapat menyehatkan
tubuh.
Pohon sagu yang sudah ditebang
mereka kuliti batangnya untuk mendapatkan sagu yang berada di dalamnya. Sagu
tersebut mereka tumbuk dengan menggunakan pangkur[1]. Sesuai dengan nama alat
yang digunakan, proses menumbuk sagu ini dikenal dengan istilah memangkur. Sagu
yang telah ditumbuk menghasilkan ampas sagu, yaitu mirip dengan ampas kelapa.
Kemudian, ampas sagu tersebut mereka beri air lalu memerasnya ke dalam wadah dari
belahan bambu. Air perasan tersebut mereka biarkan beberapa saat agar inti sagu
mengendap di dasar wadah. Setelah inti sagu mengendap, merekap pun membuang
airnya. Kemudian, endapan inti sagu tersebut mereka bentuk seperti bola tenis
atau memanjang seperti lontong, lalu menyimpannya ke dalam tumang, yaitu
keranjang yang terbuat dari rotan. Setelah itu, mereka membawanya pulang dengan
cara menggendongnya di punggung. Begitulah pekerjaan kaum perempuan penduduk
Dusun Kamboi Rama setiap hari.
Lama-kelamaan pohon sagu di Dusun
Kamboi Rama semakin berkurang. Melihat keadaan itu, Dewa Iriwonawani pun murka.
Ia memindahkan tanaman sagunya ke daerah lain. Karena takut mendapat murka dari
Dewa Iriwonawani, penduduk Dusun Kamboi Rama memutuskan pindah ke daerah pantai
dan mendirikan tempat tinggal baru yang diberi nama Randuayaivi. Terkecuali
sepasang suami-istri yang masih tetap tinggal di atas gunung tersebut bersama
Dewa Iriwonawai. Sepasang suami-istri tersebut bernama Irimiami dan Isoray.
Untuk bertahan hidup, mereka berburu rusa di hutan dan menanam umbi-umbian di
ladang.
Pada suatu hari, sepulang dari
ladang, Irimiami dan Isoray sedang beristirahat di bawah sebuah pohon yang
rimbun. Irimiami duduk sambil menyandarkan tubuhnya pada batang pohon,
sedangkan Isoray duduk di atas sebuah batu besar yang berada di bawah pohon
itu. Di tengah asyik beristirahat, tiba-tiba Isoray berteriak memekik dan
melompat dari batu itu.
“Aduh, Kakak..! Panas... panas...
panas...!” pekik Isoray sambil mengusap-usap bokongnya.
“Apa yang terjadi denganmu,
istriku?” tanya Irimiami.
“Entahlah, Kakak! Tiba-tiba batu
itu menjadi panas,” jawab Isoray dalam keadaan panik.
Beberapa saat kemudian, batu itu
tiba-tiba mengeluarkan kepulan asap. Karena penasaran, Irimiami pun mencoba
duduk di atas batu. Begitu menduduki batu itu, ia pun berteriak memekik sama
seperti istrinya. Ia semakin penasaran ingin mencoba tingkat kepanasan batu
itu. Ia mengambil daging rusa hasil buruannya dan meletakkannya di atas batu
itu. Tak berapa lama kemudian, terciumlah aroma daging rusa yang mengundang
selera makan. Setelah matang, mereka pun segera mengangkat dan mencicipi daging
rusa itu.
“Hmmmm... lezatnya daging rusa
ini,” gumam Irimiami setelah mencicipi sepotong daging rusa itu.
“Istriku! Coba rasakan daging
rusa ini!” seru Irimiami seraya memberi sepotong daging rusa kepada istrinya.
Setelah habis mencicipi sepotong
daging rusa itu, Isoray pun ketagihan. Karena lapar setelah hampir seharian
berburu, mereka pun menyantap daging rusa itu dengan lahapnya hingga habis.
Sejak itu, mereka selalu memasak makanan dengan cara meletakkannya di atas batu
itu. Semakin hari batu itu semakin banyak mengeluarkan asap panas. Oleh karena
itu, Irimiami dan istrinya semakin penasaran ingin selalu mencoba tingkat
kepanasan batu itu.
Irimiami dan istrinya mengambil
sebatang bambu, lalu menggosokkannya pada batu itu. Dalam waktu singkat, bambu
itu terputus dan gosokan pada bambu itu mengeluarkan percikan api. Setelah itu,
mereka mengumpulkan rumput dan daun kering, lalu meletakkannya di atas batu
itu. Tak berapa lama kemudian, rumput dan daun itu mengeluarkan gumpalan asap
tebal dan panas.
Pada suatu siang yang sangat
terik, Irimiami dan istrinya kembali mengumpulkan rumput dan daun kering yang
lebih banyak lagi. Rumput dan daun kering tersebut mereka letakkan di atas batu
itu. Tak berapa lama mereka menunggu, rumput dan daun kering tersebut terbakar
hingga mengeluarkan api yang sangat panas. Melihat kejadian itu, mereka panik
dan ketakutan, terutama Isoray.
“Kakak! Apa yang harus kita
lakukan? Aku takut terjadi kebakaran di tempat ini,” kata Isoray dengan panik.
Irimiami dan istrinya berusaha
untuk memadamkan api di atas batu itu, namun tidak berhasil. Akhirnya, mereka
pun segera memohon bantuan kepada Dewa Iriwonawai. Dengan kesaktiannya, Dewa
Iriwonawai berhasil memamdamkan api itu. Rupanya, kejadian tersebut tidak
membuat Irimiami dan istrinya jera. Mereka terus melakukan percobaan terhadap
batu itu. Mereka kembali meletakkan rumput, daun, dan kayu kering yang lebih banyak
lagi di atas batu itu. Tak pelak lagi, asap tebal pun mengepul dan api menyala
sangat besar dan panas di puncak Gunung Kamboi Rama selama tujuh hari tujuh
malam. Mereka kembali panik dan ketakutan. Tak henti-hentinya mereka memohon
kepada Dewa Iriwonawai agar memadamkan api tersebut.
Para penduduk Randuayaivi yang
berada di pantai pun terkejut ketika menyaksikan kejadian itu. Mereka mengira
terjadi kebakaran hutan di atas Gunung Kamboi Rama. Ketika mendengar gendang
soworai berbunyi, mereka pun segera berlari menuju ke Gunung Kamboi Rama untuk
menyaksikan peristiwa tersebut lebih dekat. Setibanya di atas gunung itu,
mereka disambut oleh Irimiami dan Isoray. Irimiami pun menceritakan tentang
keajaiban batu itu kepada mereka. Mulanya, para penduduk tidak percaya pada
cerita itu. Namun setelah Irimiami dan istrinya menyuruh mereka mencicipi
makanan yang telah dipanaskan di atas batu itu, barulah mereka percaya. Sejak
itulah, Irimiami dan istrinya menamai batu itu Batu Keramat dan mengajak para
penduduk untuk mengadakan pesta adat. Penduduk Randuayaivi pun setuju.
Keesokan harinya, penduduk
Kampung Randuayaivi berkumpul di atas Gunung Kamboi Rama untuk mengadakan
pesta. Mereka membawa perbekalan seperti keladi, ikan, dan makanan lainnya.
Berbagai jenis makanan tersebut mereka letakkan di atas batu keramat. Pesta
adat tersebut berlangsung selama tiga hari tiga malam. Irimiami bersama istri
dan seluruh penduduk mengelilingi batu keramat itu sambil menari dan memujanya.
Selama pesta berlangsung, Irimiami dan istrinya juga menceritakan berbagai
peristiwa yang pernah mereka alami kepada seluruh penduduk Kampung Randuayaivi.
Hingga saat ini, masyarakat Papua, khususnya yang berada di Kabupaten Kepulauan
Yapen, mengeramatkan batu api itu. Mereka percaya bahwa Irimiami dan Isoray
adalah orang pertama yang menemukannya. Setahun sekali, mereka mengadakan
upacara pemujaan terhadap batu keramat itu.
Demikian cerita Legenda Batu
Keramat yang mengisahkan tentang asal-mula pemujaan terhadap batu keramat yang
dilakukan oleh masyarakat Papua di atas Gunung Kamboi Rama. Hingga saat ini,
setiap setahun sekali mereka memuja batu keramat tersebut melalui sebuah pesta
adat, yang kemudian menjadi ajang pertemuan untuk menjalin kebersamaan di
antara mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar