Meraksamana adalah seorang pemuda
yang tinggal di pedalaman Papua. Ia mempunyai saudara bernama Siraiman. Ke mana
pun pergi, mereka selalu bersama dan selalu saling membantu. Suatu ketika,
Meraksamana memperistri seorang bidadari dari kahyangan. Namun, tidak berapa
lama setelah mereka menikah, istrinya diculik oleh seorang raja yang tinggal di
seberang laut bernama Raja Koranobini. Mampukah Meraksamana merebut kembali
istrinya dari tangan Koranobini? Ikuti kisahnya dalam cerita Meraksamana
berikut ini!
Dahulu, di sebuah kampung di
pedalaman Papua, hiduplah dua pemuda yang bernama Meraksamana dan Siraiman.
Sehari-hari mereka mencari kayu, berburu, dan mencari ikan di rawa maupun di
sungai. Mereka, dan juga penduduk kampung lainnya melakoni pekerjaan tersebut
karena memang daerah di sekitar mereka memiliki kekayaan sumber daya alam yang
melimpah.
Suatu malam, Meraksamana terlihat
sedang berbaring berbaring di lantai rumahnya yang beralaskan daun-daun kering.
Badannya terasa lelah setelah seharian bekerja. Pemuda itu tidak kuat lagi
menahan rasa kantuk hingga akhirnya terlelap. Selang beberapa saat kemudian,
Meraksamana tiba-tiba terbangun dan mengusap matanya.
“Oh, aku baru saja bermimpi
melihat puluhan bidadari sedang mandi di telaga,” gumamnya.
Meraksamana merasa mimpi itu
seperti nyata. Karena penasaran, malam itu juga ia segera menuju ke telaga yang
terletak tidak jauh dari rumahnya. Di bawah temaram cahaya bulan, ia berjalan
menyusuri jalan setapak menuju telaga. Alangkah terkejutnya ia saat tiba di
tempat itu, ia melihat sepuluh bidadari dari kahyangan sedang mandi sambil
bersenda-gurau di tengah-tengah telaga. Ia pun segera bersembunyi di balik sebuah
pohon besar dan mengawasi gerak-gerik para bidadari tersebut dari balik pohon.
“Ternyata, mimpiku benar-benar
menjadi kenyataan,” kata Meraksamana, “Bidadari-bidadari itu sungguh cantik dan
mempesona.”
Meraksamana terpesona melihat
kecantikan para bidadari itu. Saat asyik mengintip, ia dikejutkan oleh
kehadiran seorang perempuan tua yang tiba-tiba berdiri di dekatnya. Ia tidak
tahu dari mana datangnya nenek itu.
“Hai, anak muda! Sedang apa kamu
di sini?” tanya nenek itu.
“Sa... sa... saya sedang mengawasi
bidadari-bidadari itu, Nek,” jawab Meraksamana dengan gugup.
Nenek itu tersenyum, lalu
berpesan kepada Meraksamana.
“Jika ingin memperistri mereka,
sebaiknya kamu ambil pakaian mereka yang diletakkan di atas batu besar sana!”
ujar nenek itu sambil menunjuk ke tempat di mana pakaian para bidadari itu
diletakkan, “Mereka pasti tidak akan bisa terbang kembali ke negerinya.”
“Baik, Nek,” jawab Meraksamana.
Dengan mengendap-endap, pemuda
itu mendekati batu besar yang terletak di tepi telaga. Setelah dekat, ia
berhenti sejenak dan bersembunyi di balik semak-semak. Begitu para bidadari itu
lengah, dengan cepat Meraksamana menyambar salah satu pakaian milik bidadari
tersebut lalu segera kembali ke tempat persembunyiannya. Ketika ia sampai di
balik pohon besar itu, si Nenek sudah tidak ada. Meraksamana pun kemudian
kembali mengawasi para bidadari tersebut.
Saat fajar mulai menyingsing di
ufuk timur, para bidadari telah selesai mandi dan bersiap-siap untuk kembali ke
kahyangan. Satu per satu mereka mengenakan pakaian masing-masing. Namun, salah
seorang dari mereka tampak kebingungan mencari pakaiannya.
“Kak, apakah kalian melihat
pakaianku?” tanya bidadari itu.
“Memang kamu letakkan di mana
pakaianmu, Bungsu?” bidadari yang sulung balik bertanya.
“Tadi aku meletakkannya di dekat
pakaian kalian,” jawab bidadari bungsu.
Rupanya, bidadari yang kehilangan
pakaian itu adalah si Bungsu. Ia dan kakak-kakaknya sudah mencarinya ke
mana-mana, tapi belum juga ditemukan. Akhirnya, si Bungsu ditinggalkan oleh
kakak-kakaknya karena hari sudah hampir pagi.
“Kakak, kenapa kalian
meninggalkan aku sendirian di sini. Aku takut sekali,” ratap si Bungsu.
Melihat bidadari Bungsu itu
bersedih, Meraksamana segera menghampiri dan menghiburnya.
“Hai, gadis cantik. Kamu siapa dan
kenapa menangis?” tanya Meraksamana pura-pura tidak tahu.
“Aku Bidadari Bungsu dari
kahyangan. Aku tidak dapat pulang bersama kakak-kakakku karena pakaianku hilang
entah ke mana,” jawab si Bungsu.
Meraksamana tidak mau
menyia-nyiakan kesempatan. Ia pun mengajak Bidadari Bungsu pulang ke rumahnya.
Sejak itu, Bidadari Bungsu tinggal bersama dengan Meraksamana. Selang beberapa
waktu kemudian, pemuda itu mengajaknya menikah. Si Bungsu pun tidak bisa
menolak ajakan itu. Selain karena ia tidak bisa lagi kembali ke negerinya,
hidupnya bergantung pada Meraksamana yang telah menolongnya. Akhirnya, mereka
menikah dan hidup bahagia. Meraksamana pun semakin giat bekerja.
Suatu hari, Meraksamana terlihat
sedang memperbaiki umpan dan kail bersama Siraiman. Rupanya, mereka hendak
pergi memancing ke sungai. Seperti biasanya, sebelum pergi, ia selalu berpesan
kepada istrinya.
“Dinda, jagalah dirimu baik-baik
di rumah,” pesan Meraksamana.
“Baik, Kanda. Kanda pun sebaiknya
berhati-hati di sungai. Kalau sudah mendapatkan ikan yang banyak, segeralah
kembali,” ujar Bidadari Bungsu.
“Baik, Dinda,” jawab Meraksamana.
Setelah berpamitan, Meraksamana
ditemani Siraiman pun berangkat ke sungai. Hari itu, mereka sangat beruntung
karena ikan-ikan di sungai sedang doyan makan. Setiap kali mereka melemparkan
umpan, ikan-ikan langsung menyambar. Tidak sampai setengah hari, mereka telah
mendapatkan hasil tangkapan yang cukup banyak. Mereka pun memutuskan untuk
pulang. Setiba di rumah, Meraksamana segera memanggil istrinya.
“Dinda, Kanda sudah pulang.
Cepatlah keluar, Kanda membawa ikan yang banyak sekali!” seru Meraksamana.
Beberapa kali Meraksamana
memanggil istrinya, namun tak ada jawaban. Ia pun mulai khawatir.
“Siraiman, kenapa istriku tidak
keluar-keluar juga?” tanyanya kepada Siraiman dengan cemas, “Padahal biasanya,
sekali saja aku memanggilnya dia sudah datang menyambutku.”
“Barangkali istri kakak sedang
tidur” jawab Siraiman dengan santai.
“Tidak mungkin. Ia tidak pernah
tidur sebelum aku pulang,” sanggah Meraksamana.
Meraksamana pun semakin cemas. Ia
segera masuk ke dalam rumah. Namun, istrinya tidak juga terlihat. Ia kemudian
mencarinya di sekitar rumah dan bertanya kepada tetangga, tapi tak seorang pun
yang melihatnya. Akhirnya, ia bersama Siraiman segera mencarinya ke luar
perkampungan. Dalam perjalanan, mereka menemukan seorang laki-laki sedang
tergantung di pohon dengan tangan terikat.
“Hai, kamu siapa dan kenapa
digantung?” tanya Meraksamana.
“Aku Mandinuma dari Negeri
Koranobini yang berada di seberang laut,” jawab laki-laki setengah baya itu,
“Aku dihukum oleh rajaku karena aku suka makan banyak sehingga banyak merugikan
orang lain.”
Meraksamana kemudian menanyakan
perihal istrinya kepada Mandinuma.
“Apakah kamu melihat seorang
wanita lewat di sini?” tanyanya.
“Ya, tadi aku wanita cantik
seperti bidadari lewat di sini. Tapi, ia bersama dengan Raja Koranobini yang
telah menghukumku,” jawab Mandinuma.
“Hai, kenapa istriku bisa bersama
dia?” tanya Meraksamana bingung.
“Ketahuilah, Meraksamana! Raja
Koranobini adalah raja yang bengis dan kejam. Walaupun sudah mempunyai istri
banyak, ia suka mengganggu wanita-wanita cantik dan kemudian
memperistrinya,” jelas Mandinuma, “Aku
akan membantu kalian, tapi dengan syarat lepaskan dulu jeratan tali ini.”
Meraksamana bersama Siraiman
segera melepaskan tali yang menjerat tubuh Mandinuma dan kemudian menurunkannya
dari pohon.
“Terima kasih karena telah
membebaskanku,” ucap Mandinuma, “Sesuai dengan janjiku tadi, maka aku akan
segera membebaskan istrimu dan membawanya kembali ke sini.”
Mandinuma segera berlari menuju
ke laut dan diikuti oleh Meraksamana dan Siraiman. Setiba di pantai, ia
langsung menghirup air laut hingga laut itu menjadi kering. Kedua orang
bersaudara itu hanya terbengong-bengong melihat kesaktian Mandinuma.
“Kalian tunggu di sini saja,”
ujar Mandinuma, “Biar aku sendiri yang menghadapi Raja Koranobini yang bengis
itu dan segera membawa istrimu kemari.”
Mandinuma yang sakti itu dengan
cepat berlari menuju istana Koranobini melewati jalan yang sudah menjadi
daratan. Setiba di istana, ia mendapati Raja Koranobini sedang tertidur pulas.
Tanpa sepengetahuan para penjaga, ia segera mencari keberadaan Bidadari Bungsu.
Tak berapa lama kemudian, ia pun menemukannya sedang menangis di dalam sebuah
kamar.
“Jangan, takut Putri! Aku
Mandinuma, sahabat suamimu. Aku ke mari untuk menyelamatkanmu,” ujar laki-laki
sakti itu.
“Sekarang suamiku ada di mana?”
tanya Bidadari Bungsu.
“Suamimu sedang menunggumu di
seberang lautan sana. Ayo, cepat kita tinggalkan tempat ini!” ujar Mandinuma
seraya menarik tangan istri Meraksamana itu.
Setelah melihat keadaan sudah
aman, keduanya pun segera pergi meninggalkan istana tanpa sepengetahuan Raja
Koranobini. Alhasil, mereka berhasil sampai di seberang lautan. Meraksamana dan
Siraiman pun menyambut kedatangan mereka dengan gembira. Mandinuma segera
memuntahkan semua air laut yang telah dihirupnya sehingga jalan yang dilaluinya
tadi kembali menjadi lautan yang luas.
Meraksamana tidak henti-hentinya
mengucapkan terima kasih kepada Mandinuma yang telah menyelamatkan wanita yang
amat dicintainya itu. Ia pun amat bahagia karena dapat bertemu kembali dengan
istrinya dan hidup seperti biasanya. Namun sayang, kebahagiaan itu tidak
berlangsung lama. Bidadari Bungsu meminta izin kepada suaminya untuk kembali ke
kahyangan karena malu selalu diejek oleh masyarakat sekitarnya bahwa ia manusia
yang tidak dikenal asal-usulnya dan tidak jelas keturunannya.
Walaupun berat hati, Meraksamana
terpaksa mengizinkannya. Ia tidak ingin melihat istrinya terus menderita karena
setiap hari dihina. Meraksamana pun terpaksa menyerahkan kembali pakaian
istrinya yang disembunyikan di dalam rumahnya. Maka tahulah Bidadari Bungsu
bahwa pakaiannya yang dulu hilang di tepi ternyata disembunyikan oleh suaminya.
Meskipun begitu, ia tidak mempermasalahkannya. Ia malah berterima kasih kepada
Meraksamana yang telah menolongnya selama dirinya tinggal di bumi.
Setelah mengenakan pakaiannya,
Bidadari Bungsu segera terbang menuju kahyangan. Meraksamana pun melepas
kepergian istrinya dengan hati sedih. Sejak itu, Bidadari Bungsu itu tidak
pernah lagi kembali ke bumi menemui suaminya.
Demikian cerita Meraksamana dari
Provinsi Papua. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas dalah bahwa
segala sesuatu yang diperoleh dengan mudah dan cara yang tidak jujur akan mudah
pula lenyap dari tangan kita.