TABEA....!!!!

TABEEEAAAAAAA,,,,
Terima kasih sudah berkunjung disini, Semoga bermanfaat.....!! Just enjoy.. :)

CERITA RAKYAT PAPUA : Meraksamana

Meraksamana adalah seorang pemuda yang tinggal di pedalaman Papua. Ia mempunyai saudara bernama Siraiman. Ke mana pun pergi, mereka selalu bersama dan selalu saling membantu. Suatu ketika, Meraksamana memperistri seorang bidadari dari kahyangan. Namun, tidak berapa lama setelah mereka menikah, istrinya diculik oleh seorang raja yang tinggal di seberang laut bernama Raja Koranobini. Mampukah Meraksamana merebut kembali istrinya dari tangan Koranobini? Ikuti kisahnya dalam cerita Meraksamana berikut ini!

Dahulu, di sebuah kampung di pedalaman Papua, hiduplah dua pemuda yang bernama Meraksamana dan Siraiman. Sehari-hari mereka mencari kayu, berburu, dan mencari ikan di rawa maupun di sungai. Mereka, dan juga penduduk kampung lainnya melakoni pekerjaan tersebut karena memang daerah di sekitar mereka memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah.

Suatu malam, Meraksamana terlihat sedang berbaring berbaring di lantai rumahnya yang beralaskan daun-daun kering. Badannya terasa lelah setelah seharian bekerja. Pemuda itu tidak kuat lagi menahan rasa kantuk hingga akhirnya terlelap. Selang beberapa saat kemudian, Meraksamana tiba-tiba terbangun dan mengusap matanya.

“Oh, aku baru saja bermimpi melihat puluhan bidadari sedang mandi di telaga,” gumamnya.

Meraksamana merasa mimpi itu seperti nyata. Karena penasaran, malam itu juga ia segera menuju ke telaga yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Di bawah temaram cahaya bulan, ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju telaga. Alangkah terkejutnya ia saat tiba di tempat itu, ia melihat sepuluh bidadari dari kahyangan sedang mandi sambil bersenda-gurau di tengah-tengah telaga. Ia pun segera bersembunyi di balik sebuah pohon besar dan mengawasi gerak-gerik para bidadari tersebut dari balik pohon.

“Ternyata, mimpiku benar-benar menjadi kenyataan,” kata Meraksamana, “Bidadari-bidadari itu sungguh cantik dan mempesona.”

Meraksamana terpesona melihat kecantikan para bidadari itu. Saat asyik mengintip, ia dikejutkan oleh kehadiran seorang perempuan tua yang tiba-tiba berdiri di dekatnya. Ia tidak tahu dari mana datangnya nenek itu.

“Hai, anak muda! Sedang apa kamu di sini?” tanya nenek itu.

“Sa... sa... saya sedang mengawasi bidadari-bidadari itu, Nek,” jawab Meraksamana dengan gugup.

Nenek itu tersenyum, lalu berpesan kepada Meraksamana.

“Jika ingin memperistri mereka, sebaiknya kamu ambil pakaian mereka yang diletakkan di atas batu besar sana!” ujar nenek itu sambil menunjuk ke tempat di mana pakaian para bidadari itu diletakkan, “Mereka pasti tidak akan bisa terbang kembali ke negerinya.”

“Baik, Nek,” jawab Meraksamana.

Dengan mengendap-endap, pemuda itu mendekati batu besar yang terletak di tepi telaga. Setelah dekat, ia berhenti sejenak dan bersembunyi di balik semak-semak. Begitu para bidadari itu lengah, dengan cepat Meraksamana menyambar salah satu pakaian milik bidadari tersebut lalu segera kembali ke tempat persembunyiannya. Ketika ia sampai di balik pohon besar itu, si Nenek sudah tidak ada. Meraksamana pun kemudian kembali mengawasi para bidadari tersebut.

Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, para bidadari telah selesai mandi dan bersiap-siap untuk kembali ke kahyangan. Satu per satu mereka mengenakan pakaian masing-masing. Namun, salah seorang dari mereka tampak kebingungan mencari pakaiannya.

“Kak, apakah kalian melihat pakaianku?” tanya bidadari itu.

“Memang kamu letakkan di mana pakaianmu, Bungsu?” bidadari yang sulung balik bertanya.

“Tadi aku meletakkannya di dekat pakaian kalian,” jawab bidadari bungsu.

Rupanya, bidadari yang kehilangan pakaian itu adalah si Bungsu. Ia dan kakak-kakaknya sudah mencarinya ke mana-mana, tapi belum juga ditemukan. Akhirnya, si Bungsu ditinggalkan oleh kakak-kakaknya karena hari sudah hampir pagi.

“Kakak, kenapa kalian meninggalkan aku sendirian di sini. Aku takut sekali,” ratap si Bungsu.

Melihat bidadari Bungsu itu bersedih, Meraksamana segera menghampiri dan menghiburnya.

“Hai, gadis cantik. Kamu siapa dan kenapa menangis?” tanya Meraksamana pura-pura tidak tahu.

“Aku Bidadari Bungsu dari kahyangan. Aku tidak dapat pulang bersama kakak-kakakku karena pakaianku hilang entah ke mana,” jawab si Bungsu.

Meraksamana tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia pun mengajak Bidadari Bungsu pulang ke rumahnya. Sejak itu, Bidadari Bungsu tinggal bersama dengan Meraksamana. Selang beberapa waktu kemudian, pemuda itu mengajaknya menikah. Si Bungsu pun tidak bisa menolak ajakan itu. Selain karena ia tidak bisa lagi kembali ke negerinya, hidupnya bergantung pada Meraksamana yang telah menolongnya. Akhirnya, mereka menikah dan hidup bahagia. Meraksamana pun semakin giat bekerja.

Suatu hari, Meraksamana terlihat sedang memperbaiki umpan dan kail bersama Siraiman. Rupanya, mereka hendak pergi memancing ke sungai. Seperti biasanya, sebelum pergi, ia selalu berpesan kepada istrinya.

“Dinda, jagalah dirimu baik-baik di rumah,” pesan Meraksamana.

“Baik, Kanda. Kanda pun sebaiknya berhati-hati di sungai. Kalau sudah mendapatkan ikan yang banyak, segeralah kembali,” ujar Bidadari Bungsu.

“Baik, Dinda,” jawab Meraksamana.

Setelah berpamitan, Meraksamana ditemani Siraiman pun berangkat ke sungai. Hari itu, mereka sangat beruntung karena ikan-ikan di sungai sedang doyan makan. Setiap kali mereka melemparkan umpan, ikan-ikan langsung menyambar. Tidak sampai setengah hari, mereka telah mendapatkan hasil tangkapan yang cukup banyak. Mereka pun memutuskan untuk pulang. Setiba di rumah, Meraksamana segera memanggil istrinya.

“Dinda, Kanda sudah pulang. Cepatlah keluar, Kanda membawa ikan yang banyak sekali!” seru Meraksamana.

Beberapa kali Meraksamana memanggil istrinya, namun tak ada jawaban. Ia pun mulai khawatir.

“Siraiman, kenapa istriku tidak keluar-keluar juga?” tanyanya kepada Siraiman dengan cemas, “Padahal biasanya, sekali saja aku memanggilnya dia sudah datang menyambutku.”

“Barangkali istri kakak sedang tidur” jawab Siraiman dengan santai.

“Tidak mungkin. Ia tidak pernah tidur sebelum aku pulang,” sanggah Meraksamana.

Meraksamana pun semakin cemas. Ia segera masuk ke dalam rumah. Namun, istrinya tidak juga terlihat. Ia kemudian mencarinya di sekitar rumah dan bertanya kepada tetangga, tapi tak seorang pun yang melihatnya. Akhirnya, ia bersama Siraiman segera mencarinya ke luar perkampungan. Dalam perjalanan, mereka menemukan seorang laki-laki sedang tergantung di pohon dengan tangan terikat.

“Hai, kamu siapa dan kenapa digantung?” tanya Meraksamana.

“Aku Mandinuma dari Negeri Koranobini yang berada di seberang laut,” jawab laki-laki setengah baya itu, “Aku dihukum oleh rajaku karena aku suka makan banyak sehingga banyak merugikan orang lain.”

Meraksamana kemudian menanyakan perihal istrinya kepada Mandinuma.

“Apakah kamu melihat seorang wanita lewat di sini?” tanyanya.

“Ya, tadi aku wanita cantik seperti bidadari lewat di sini. Tapi, ia bersama dengan Raja Koranobini yang telah menghukumku,” jawab Mandinuma.

“Hai, kenapa istriku bisa bersama dia?” tanya Meraksamana bingung.

“Ketahuilah, Meraksamana! Raja Koranobini adalah raja yang bengis dan kejam. Walaupun sudah mempunyai istri banyak, ia suka mengganggu wanita-wanita cantik dan kemudian memperistrinya,”  jelas Mandinuma, “Aku akan membantu kalian, tapi dengan syarat lepaskan dulu jeratan tali ini.”

Meraksamana bersama Siraiman segera melepaskan tali yang menjerat tubuh Mandinuma dan kemudian menurunkannya dari pohon.

“Terima kasih karena telah membebaskanku,” ucap Mandinuma, “Sesuai dengan janjiku tadi, maka aku akan segera membebaskan istrimu dan membawanya kembali ke sini.”

Mandinuma segera berlari menuju ke laut dan diikuti oleh Meraksamana dan Siraiman. Setiba di pantai, ia langsung menghirup air laut hingga laut itu menjadi kering. Kedua orang bersaudara itu hanya terbengong-bengong melihat kesaktian Mandinuma.

“Kalian tunggu di sini saja,” ujar Mandinuma, “Biar aku sendiri yang menghadapi Raja Koranobini yang bengis itu dan segera membawa istrimu kemari.”

Mandinuma yang sakti itu dengan cepat berlari menuju istana Koranobini melewati jalan yang sudah menjadi daratan. Setiba di istana, ia mendapati Raja Koranobini sedang tertidur pulas. Tanpa sepengetahuan para penjaga, ia segera mencari keberadaan Bidadari Bungsu. Tak berapa lama kemudian, ia pun menemukannya sedang menangis di dalam sebuah kamar.

“Jangan, takut Putri! Aku Mandinuma, sahabat suamimu. Aku ke mari untuk menyelamatkanmu,” ujar laki-laki sakti itu.

“Sekarang suamiku ada di mana?” tanya Bidadari Bungsu.

“Suamimu sedang menunggumu di seberang lautan sana. Ayo, cepat kita tinggalkan tempat ini!” ujar Mandinuma seraya menarik tangan istri Meraksamana itu.

Setelah melihat keadaan sudah aman, keduanya pun segera pergi meninggalkan istana tanpa sepengetahuan Raja Koranobini. Alhasil, mereka berhasil sampai di seberang lautan. Meraksamana dan Siraiman pun menyambut kedatangan mereka dengan gembira. Mandinuma segera memuntahkan semua air laut yang telah dihirupnya sehingga jalan yang dilaluinya tadi kembali menjadi lautan yang luas.

Meraksamana tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Mandinuma yang telah menyelamatkan wanita yang amat dicintainya itu. Ia pun amat bahagia karena dapat bertemu kembali dengan istrinya dan hidup seperti biasanya. Namun sayang, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Bidadari Bungsu meminta izin kepada suaminya untuk kembali ke kahyangan karena malu selalu diejek oleh masyarakat sekitarnya bahwa ia manusia yang tidak dikenal asal-usulnya dan tidak jelas keturunannya.

Walaupun berat hati, Meraksamana terpaksa mengizinkannya. Ia tidak ingin melihat istrinya terus menderita karena setiap hari dihina. Meraksamana pun terpaksa menyerahkan kembali pakaian istrinya yang disembunyikan di dalam rumahnya. Maka tahulah Bidadari Bungsu bahwa pakaiannya yang dulu hilang di tepi ternyata disembunyikan oleh suaminya. Meskipun begitu, ia tidak mempermasalahkannya. Ia malah berterima kasih kepada Meraksamana yang telah menolongnya selama dirinya tinggal di bumi.

Setelah mengenakan pakaiannya, Bidadari Bungsu segera terbang menuju kahyangan. Meraksamana pun melepas kepergian istrinya dengan hati sedih. Sejak itu, Bidadari Bungsu itu tidak pernah lagi kembali ke bumi menemui suaminya.



Demikian cerita Meraksamana dari Provinsi Papua. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas dalah bahwa segala sesuatu yang diperoleh dengan mudah dan cara yang tidak jujur akan mudah pula lenyap dari tangan kita.

CERITA RAKYAT PAPUA : Topeng dan Pesta Roh

Topeng merupakan media atau alat utama yang digunakan oleh orang-orang Suku Asmat di Papua dalam upacara yang disebut Pesta Roh atau Pesta Topeng. Dalam istilah orang Asmat, pesta ini disebut dengan mamar atau bunmar pokbui. Pesta Roh ini bertujuan untuk memperingati roh keluarga dekat yang telah meninggal dunia. Menurut cerita, upacara mamar bermula dari sebuah peristiwa yang dialami oleh seorang anak yatim piatu. Peristiwa apakah yang dialami oleh anak itu sehingga upacara Pesta Roh menjadi tradisi dalam Suku Asmat? Ikuti kisahnya dalam cerita Topeng dan Pesta Roh berikut ini.

Alkisah, di sebuah kampung di hulu Sungai Sirets di pedalaman Merauke, Papua, hiduplah seorang anak yatim piatu atau yang biasa panggil si Yatim. Anak itu menjadi sebatang kara karena dusunnya diserang oleh kampung lain sehingga menyebabkan seluruh keluarganya meninggal dunia. Kini, si Yatim hidup sendiri di sebuah rumah yang sudah hampir roboh. Hidupnya sungguh memprihatinkan. Setiap hari ia selalu menyendiri karena tidak disenangi oleh warga tanpa alasan yang jelas. Walaupun penduduk di kampung itu hidup makmur, namun tak seorang pun dari mereka yang mau membantu si Yatim.

Nasib si Yatim semakin parah ketika suatu hari ia dituduh mencuri makanan dan barang-barang milik penduduk kampung tanpa disertai dengan bukti. Saat ia mengelak, warga justru hendak menghukumnya. Karena merasa tidak bersalah, si Yatim pun melarikan diri meninggalkan kampungnya. Melihat si Yatim melarikan diri, seorang warga langsung berteriak.

“Ayo, kejar anak itu!”

Orang-orang segera mengejar si Yatim beramai-ramai untuk menangkapnya. Sedangkan si Yatim terus berlari ketakutan masuk ke dalam hutan. Saat tiba di tengah hutan, ia beristirahat sejenak di bawah sebuah beringin yang rindang. Di situlah ia berpikir bahwa kalau ia terus berlari maka dirinya pasti akan tertangkap. Akhirnya, si Yatim memutuskan untuk bersembunyi di atas pohon beringin tersebut.

“Ah, sebaiknya aku bersembunyi di atas pohon ini. Aku yakin, mereka tidak akan melihatku,” gumamnya seraya memanjat pohon beringin itu.

Setelah berada di atas pohon, si Yatim kemudian bersembunyi di balik rerimbunan daun dan jumbaian akar-akar beringin. Tak lama kemudian, orang-orang yang mengejarnya tiba dan berhenti sejenak di bawah pohon beringin itu karena kehilangan jejak.

“Hai, lari ke mana anak itu?” celetuk salah seorang dari mereka, kebingungan.

Penduduk yang lain pun sama bingungnya. Sementara itu, si Yatim yang bersembunyi di atas pohon beringin merasa ketakutan kalau-kalau keberadaannya diketahui oleh orang-orang yang mengejarnya. Untung para penduduk segera meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan pengejaran sampai ke dalam hutan. Setelah aman, si Yatim pun keluar dari persembunyiannya dengan perasaan lega. Ia kemudian duduk di salah satu cabang pohon beringin itu untuk melepaskan lelah.

Hari sudah gelap. Anak sebatang kara itu masih saja duduk melamun di atas pohon. Tampaknya si Yatim sedang bingung memikirkan bagaimana cara membuat penduduk kampung tidak lagi mengejarnya. Akhirnya, si Yatim menemukan sebuah ide, yaitu ia ingin menakut-nakuti para penduduk dengan mengenakan topeng yang menyeramkan. Ketika hendak turun dari pohon itu untuk mencari akar-akar kayu yang akan dibuat topeng, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sesosok makhluk menyeramkan yang berdiri di cabang pohon beringin yang lain. Rupanya, makhluk itu adalah roh penunggu pohon beringin itu.

“Hai, anak manusia! Kamu siapa dan kenapa kamu berada di atas pohon ini?” tanya makhluk itu.

“Sa... saya si Yatim,” jawab si Yatim piatu dengan gugup karena ketakutan.

Bocah itu kemudian menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga ia berada di atas pohon beringin itu. Makhluk penunggu pohon beringin itu pun merasa iba terhadap nasib yang dialami si Yaitm. Meskipun wajahnya tampak menakutkan, makhluk itu ternyata baik hati. Ia kemudian memberikan makanan dan minuman kepada si Yatim. Akhirnya, mereka pun bersahabat.

Setelah itu, si Yatim turun dari atas pohon untuk mencari akar-akar pohon yang akan dianyam menjadi sebuah topeng yang menyerupai roh penunggu pohon beringin itu. Membuat topeng seperti itu tidaklah mudah bagi si Yatim. Ia membutuhkan waktu sekitar lima hari baru bisa menyelesaikannya. Setelah selesai, topeng itu ia pakai dan kemudian bercermin di air. Betapa senangnya hati si Yatim karena topeng hasil buatannya benar-benar menyerupai wajah roh penunggu pohon beringin itu.

“Aku yakin, para penduduk pasti akan ketakutan melihatku,” gumamnya.

Ketika hari mulai gelap, si Yatim pergi ke perkampungan dengan mengenakan topeng dan menyelinap masuk ke salah satu rumah penduduk. Penghuni rumah itu pun langsung lari terbirit-birit karena ketakutan.

“Tolong...! Tolong...! Ada setaaaan...!” teriak penduduk yang ketakutan itu.

 Mendengar teriakan tersebut, penduduk kampung lainnya segera berhamburan keluar rumah dan mengerumuni warga yang berteriak itu.

“Hai, apa yang terjadi denganmu?” tanya kepala kampung.

“Ada setan di dalam rumahku. Sungguh, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Wajahnya sangat menyeramkan” jelas warga itu.

Mendengar keterangan tersebut, kepala kampung segera memerintahkan seluruh warganya agar mengumpulkan sagu untuk dipersembahkan kepada makhluk itu dengan harapan makhluk itu meninggalkan kampung mereka. Para warga pun segera pulang ke rumah mereka masing-masing untuk mengambil sagu. Namun, setelah mereka kembali menemui kepala kampung, tak seorang pun yang membawa sagu. Ternyata, persediaan sagu di desa tersebut telah habis.

“Kalau begitu, besok pagi-pagi sekali kalian pergi ke hutan untuk memangkur sagu,” ujar kepala kampung.

Pada keesokan harinya, semua orang di kampung itu beramai-ramai berangkat ke hutan. Sementara itu, si Yatim pun segera menyusun siasat. Ia akan menakut-nakuti orang-orang yang memangkur sagu di dekat pohon beringin tempat ia bersembunyi. Ketika hari mulai gelap, si Yatim menutupi jalan setapak di dekat pohon beringin itu dengan dahan-dahan pohon. Jalan itu nantinya akan dilewati oleh para pemangkur sagu saat hendak pulang ke perkampungan. Selesai menutupi jalan, si Yatim segera memakai topengnya lalu bersembunyi di balik semak belukar yang ada di bawah pohon beringin.

Tak lama kemudian, tampak serombongan wanita yang membawa sagu hendak melintasi jalan setapak itu. Melihat jalan terhalang oleh dahan-dahan pohon beringin, rombongan wanita itu terpaksa berhenti dan meletakkan sagu mereka di tanah. Pada saat mereka sibuk membersihkan dahan-dahan yang menghalangi jalan, si Yatim membuat suara menakutkan lalu muncul dari semak belukar dengan memakai topeng. Tak ayal, rombongan wanita pembawa sagu itu langsung berteriak ketakutan.

“Ada setaaan...! Ada setaaan...!” teriak rombongan wanita itu saat melihat topeng yang amat menyeramkan.

Rombongan wanita itu pun lari terbirit-birit dan meninggalkan sagu-sagu mereka. Melihat rombongan wanita itu telah pergi, si Yatim segera membuka topengnya lalu mengambil sagu-sagu tersebut untuk dibawa ke tempat persembunyiannya. Ia kemudian membakar sagu itu dan memakannya sampai kenyang.

Sejak itu, si Yatim selalu menakut-nakuti setiap warga yang melintasi jalan itu dan mengambil sagu-sagu mereka. Hal itu ia lakukan untuk membuat orang-orang kampung yang dulu menganiaya dirinya semakin jera. Sementara itu, penduduk kampung menjadi resah dengan kejadian-kejadian menyeramkan yang sering mereka alami.

“Sebenarnya makhluk apa yang suka menakut-nakuti kita itu?” tanya seorang warga.

Tak seorang pun warga mengetahuinya. Karena penasaran, mereka bersepakat untuk menjebak makhluk itu. Suatu hari, serombongan wanita diperintahkan untuk pergi memangkur sagu ke dalam hutan. Sementara itu, sejumlah kaum laki-laki yang kuat dan pemberani diperintahkan untuk mengintai makhluk itu saat melakukan aksinya. Ketika para wanita pulang dan menemukan dahan-dahan yang menghalangi jalan, makhluk yang tidak lain adalah si Yatim bertopeng itu segera menakut-nakuti mereka. Setelah rombongan pemangkur itu lari meninggalkan sagu mereka, anak yatim piatu itu segera membuka topengnya. Ia tak sadar jika ada sejumlah orang yang mengintainya.

“Hai, lihat!” seru seorang warga saat melihat wajah di balik topeng itu, “Oh, rupanya makhluk itu ternyata si anak yatim piatu yang selama ini kita kejar.”

Ketika si Yatim hendak mengambil sagu-sagu yang tergeletak di tanah, penduduk kampung keluar dari tempat persembunyian mereka dan segera mengepung bocah itu.

“Mau lari ke mana kamu, hai anak yatim?!” hardik seorang warga.

Si Yatim akhirnya tertangkap basah oleh penduduk dan tidak dapat berbuat apa-apa. Ia pun digiring ke perkampungan untuk diadili secara adat. Namun, sebelum memasuki perkampungan, si Yatim tiba-tiba hilang secara gaib. Orang-orang kampung yang menggiringnya hanya terperangah menyaksikan peristiwa itu.

Sejak si Yatim menghilang, para penduduk merasa sudah aman karena tak ada lagi orang yang menakut-nakuti mereka. Namun, setiap kali melintas di dekat pohon beringin itu mereka masih saja sering diganggu oleh roh si Yatim. Untuk menghalau roh itu, mereka pun membuat topeng yang menyerupai topeng si Yatim. Sejak itu, topeng seperti itu digunakan dalam sebuah ritual yang dikenal dengan Pesta roh atau Pesta Topeng yang oleh masyarakat setempat disebut dengan mamar atau bunmar pokbui.

Kini, ritual Pesta Roh sudah menjadi tradisi masyarakat Suku Asmat untuk memperingati roh keluarga dekat mereka yang telah meninggal dunia. Jenis topeng yang mereka gunakan pun bervariasi. Tidak saja terbuat dari akar-akar kayu, tetapi juga dari belahan-belahan rotan atau kulit kayu fum (genemo hutan). Jenis topeng yang terbuat dari rotan disebut manimar, sedangkan topeng yang terbuat dari kulit kayu fum disebut ndat jamu.



Demikian cerita Topeng dan Pesta Roh dari daerah Papua. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah orang yang menganiaya anak yatim piatu seperti halnya penduduk kampung dalam cerita di atas akan mendapat balasan yang setimpal atas perbuatan mereka. Oleh karena telah mengganggu si Yatim, para penduduk kampung selalu mendapat gangguan dari roh si Yatim.

CERITA RAKYAT PAPUA : Biwar Sang Panakluk Naga

Biwar adalah seorang pemuda tampan dan gagah perkasa dari daerah Mimika, Papua, Indonesia. Ketika ia masih dalam kandungan, ayahnya tewas diserang oleh seekor naga saat mengarungi sebuah sungai di daerah Tamanipia. Oleh karenanya, sejak lahir ia dirawat dan dididik oleh ibunya seorang diri dengan dibekali berbagai ilmu pengetahuan. Setelah dewasa, Biwar bermaksud untuk membinasakan naga yang telah melenyapkan nyawa ayahnya. Bagaimana cara Biwar membinasakan naga yang ganas itu? Ikuti kisahnya dalam cerita Biwar Sang Penakluk Naga berikut ini!

Alkisah, di daerah Mimika, Papua, terdapat sebuah kampung yang dihuni oleh sekelompok suku Mimika. Mata pencaharian penduduk tersebut adalah memangkur sagu yang telah diwarisi secara turun-temurun dari nenek moyang mereka. Setiap hari, baik kaum laki-laki maupun perempuan, memangkur sagu di sepanjang aliran sungai di daerah itu.

Suatu hari, beberapa orang dari penduduk kampung tersebut hendak mencari sagu dengan menggunakan perahu. Selain membawa alat berupa kapak dan pangkur,[1] mereka juga membawa bekal berupa makanan dan minuman karena kegiatan memangkur sagu tersebut memerlukan waktu sekitar dua sampai tiga hari.

Setelah beberapa lama melayari sungai, tibalah mereka di suatu tempat yang banyak ditumbuhi pohon sagu. Dengan penuh semangat, kaum laki-laki mulai menebang pohon sagu yang sudah bisa diambil sari patinya. Setelah rebah, pohon sagu itu mereka kuliti untuk mendapatkan hati sagu yang berada di dalamnya. Kemudian hati dari pohon itu mereka tumbuk hingga menyerupai ampas kelapa dengan menggunakan pangkur. Hasil tumbukan itulah yang disebut dengan sagu. Selanjutnya, sagu tersebut mereka kumpulkan pada sebuah wadah bambu yang sudah dibelah, lalu mencampurinya dengan air.

Setelah itu, kaum perempuan segera memeras sagu itu. Air perasan inilah yang mengandung sari pati sagu. Untuk mendapatkan sari pati tersebut, air perasan mereka biarkan beberapa saat hingga sari patinya mengendap di dasar wadah bambu. Setelah air perasan berubah dari warna putih menjadi jernih, air yang jernih tersebut mereka buang hingga yang tersisa hanyalah endapan inti sagu. Inti sagu itu kemudian mereka bentuk seperti bola tenis atau memanjang seperti lontong. Selanjutnya, sagu-sagu yang sudah siap dimasak tersebut mereka masukkan ke dalam wadah yang disebut dengan tumang, yaitu keranjang yang terbuat dari rotan.

Setelah menaikkan semua tumang yang berisi sagu tersebut ke atas perahu, rombongan itu pun berlayar menyusuri sungai untuk kembali ke perkampungan. Saat perahu yang mereka tumpangi melewati sungai di daerah Tamanapia, tiba-tiba seeokar naga muncul dari dalam air dan langsung menyerang mereka. Hanya sekali kibas, ekor naga itu mampu menghancurkan perahu itu hingga berkeping-keping. Tak ayal, seluruh penumpangnya terlempar dan tenggelam di sungai, kecuali seorang perempuan yang sedang hamil dapat menyelamatkan diri.

Kebetulan perempuan hamil mampu meraih salah satu kepingan perahu yang telah hancur saat ia terlempar ke sungai. Kepingan perahu itulah kemudian ia jadikan sebagai pelampung hingga dapat sampai ke tepi sungai dan melarikan diri masuk dalam hutan. Untuk berlindung dari binatang buas, perempuan hamil itu tinggal di dalam sebuah gua yang ia temukan dalam hutan tersebut. Dalam keadaan hamil tua, perempuan yang malang itu berusaha mencari daun-daun muda dan umbi-umbian untuk bisa bertahan hidup.

Suatu hari, dengan susah payah perempuan itu berjuang melahirkan seorang diri. Atas kuasa Tuhan, ia berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan dan diberinya nama Biwar. Kini, perempuan itu tidak lagi kesepian tinggal di tengah hutan tersebut. Ia pun merawat dan membesarkan Biwar dengan penuh kasih sayang. Saat Biwar tumbuh menjadi remaja, ia mengajarinya berbagai ilmu seperti cara memanah, menangkap binatang, dan membuat api. Selain itu, ia juga mengajari Biwar bermain tifa[2] hingga mahir memainkan alat musik tersebut.

Beberapa tahun kemudian, Biwar telah tumbuh menjadi pemuda yang tampan, kuat, dan gagah perkasa. Setiap hari ia membantu ibunya mencari lauk dengan cara memancing ikan di sungai. Ia juga membantu ibunya membuat sebuah rumah sederhana yang disebut dengan honai, yaitu rumah adat masyarakat Papua yang terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut dari jerami atau ilalang.

Suatu hari, Biwar baru saja pulang dari memancing di sungai dengan membawa beberapa ekor ikan besar. Setiba di depan rumahnya, ia meletakkan ikan hasil tangkapannya itu di tanah seraya berteriak memanggil ibunya.

“Mama..., Mama..., keluarlah lihat! Biwar membawa ikan yang besar-besar,” teriak Biwar.

Mendengar teriakan itu, ibunya pun keluar dari dalam rumah seraya bertanya, “Dari mana kamu dapatkan ikan itu, Anakku?”

“Tadi Biwar memancingnya di sebuah sungai yang dalam. Sungai itu banyak sekali ikannya dan pemandangan di sekitarnya amat indah,” ungkap Biwar, “Jika Mama ingin melihatnya, besok Biwar akan tunjukkan tempat itu.”

Sang ibu menerima ajakan Biwar. Keesokan hari, berangkatlah mereka ke sungai yang dimaksud. Alangkah terkejutnya ibu Biwar saat tiba di sungai itu. Ia langsung teringat kepada almarhum suaminya.

“Biwar, Anakku! Ketahuilah, ayahmu beserta keluarga dan teman-taman Mama tewas di sungai itu karena diserang oleh seekor naga!” ungkap sang ibu mengenang masa lalunya yang amat memilukan hati.

Mendengar kisah sedih ibunya, Biwar bertekad untuk membinasakan naga itu. Namun, sang ibu mencegahnya.

“Tapi, Biwar! Naga itu sangat ganas,” cegah ibunya.

“Tidak Mama. Bukankah Mama telah mengajarkan Biwar berbagai ilmu? Dengan ilmu itulah Biwar akan membinasakan naga yang menghilangkan nyawa Papa,” tegas Biwar.

Sang ibu tidak mampu membendung tekad keras Biwar. Sebelum melaksanakan tekadnya, Biwar bersama ibunya pulang ke rumah untuk menyiapkan semua senjata yang diperlukan. Setelah menyiapkan tombak, golok, dan panahnya, Biwar pun berpamitan kepada ibunya untuk pergi mencari sarang naga itu di sekitar sungai.

“Hati-hati, anakku!” ujar mama-nya.

“Baik, Mama,” jawab Biwar seraya meninggalkan ibunya.

Setiba di tepi sungai, Biwar melihat sebuah gua yang diduga sebagai tempat persembunyian naga itu.

“Aku yakin naga itu pasti bersembunyi di dalam gua ini,” gumam Biwar.

Dengan langkah perlahan-lahan, Biwar mendekati gua itu. Sesampai di depan mulut gua, ia segera mengambil tifa yang diselipkan di pinggangnya lalu meniupnya untuk memancing naga itu agar keluar dari dalam gua. Alunan musik tifa yang dimainkan Biwar benar-benar menarik perhatian sang naga. Tak berapa lama kemudian, terdengarlah suara gemuruh dari dalam gua.

Mendengar suara itu, maka semakin yakinlah Biwar bahwa di dalam gua itulah sang naga bersarang. Ia pun segera bersiap-siap dengan golok di genggamannya untuk berjaga-jaga kalau-kalau naga itu datang menyerangnya. Ternyata benar, tak lama berselang, kepala naga itu tiba-tiba muncul di mulut gua. Tanpa berpikir panjang, Biwar segera melemparkan tombaknya ke arah kepala naga itu dan berhasil melukainya. Meskipun terluka parah, naga itu masih terlihat ganas. Maka sebelum naga itu menyerangnya, Biwar segera mencabut golok yang terselip di pinggangnya.

“Terimalah pembalasan dari ayah dan keluargaku yang telah kau binasakan di sungai ini!” seru Biwar seraya memenggal kepala naga itu hingga nyaris putus.

Tak ayal, naga itu jatuh terkulai di depan mulut gua. Melihat hal itu, cepat-cepat Biwar menimbun tubuh naga itu dengan bebatuan. Setelah memastikan naga itu benar-benar telah mati, ia pun segera pulang ke rumahnya untuk memberitahukan keberhasilannya membinasakan naga itu kepada ibunya. Betapa senangnya hati sang ibu mendengar berita gembira tersebut.

“Naga telah menerima hukumannya. Kini hati Mama sudah lega,” ucap ibunya, “Segeralah buat perahu anakku lalu kita kembali ke perkampungan!”

Keesokan harinya, Biwar pun membuat sebuah perahu kecil yang cukup ditumpangi mereka berdua. Dalam beberapa hari, perahu itu pun selesai dibuatnya dan siap untuk digunakan. Akhirnya, dengan perahu itu, Biwar bersama ibunya berlayar mengarungi sungai menuju ke tanah kelahiran ibunya. Setiba di perkampungan, mereka pun disambut dengan gembira oleh penduduk setempat. Untuk merayakan keberhasilan Biwar sebagai pahlawan yang telah menaklukkan naga itu, mereka mengadakan pesta yang meriah.



Demikian cerita Biwar Sang Penakluk Naga dari daerah Mimika, Provinsi Papua. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas yaitu keutamaan sifat sabar dan pemberani. Sifat sabar ditunjukkan oleh ditunjukkan oleh perilaku ibu Biwar yang senantiasa berjuang melahirkan dan membesarkan Biwar seorang diri di tengah hutan. Berkat kesabarannya, ia berhasil mendidik Biwar menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa. Sementara itu, sifat pemberani ditunjukkan oleh keberanian Biwar menghadapi seekor naga yang ganas. Dengan keberanian yang dimiliki, ia berhasil membinasakan naga itu.

CERITA RAKYAT PAPUA : Buaya Ajaib Sungai Tami

Buaya ajaib yang dimaksud dalam cerita ini adalah seekor buaya yang pernah tinggal di Sungai Tami, Jayapura, Papua. Hingga sekarang, seluruh keturunan buaya ini masih dilindungi oleh masyarakat setempat. Jasa apakah yang pernah diperbuat oleh buaya ajab ini kepada masyarakat Jayapura sehingga ia begitu dihormati? Berikut kisahnya dalam cerita Buaya Ajaib Sungai Tami.

Dahulu, di Kampung Sawjatami yang terletak di tepi Sungai Tami, Jayapura, Papua, hiduplah seorang laki-laki bernama Towjatuwa. Ia tinggal bersama istrinya di sebuah honai (rumah adat orang Papua). Saat itu, sang istri sedang hamil tua, waktu kelahirannya tinggal menunggu beberapa hari lagi.

Pada hari yang telah diperkirakan, sang istri pun telah memperlihatkan tanda-tanda akan melahirkan. Ia tiba-tiba menggigil tanpa sebab yang jelas, sebagai tanda awal kelahiran, dan mulai mengalami pendarahan. Namun, sudah berjam-jam darah terus keluar, sang bayi di dalam rahimnya tak kunjung keluar. Towjatuwa menjadi panik dan bingung mesti berbuat apa. Maka, pergilah ia ke rumah seorang dukun di kampung itu.

“Nek, tolong istri saya,” pinta Towjatuwa, “Ia akan melahirkan.”

“Baiklah, kau pulanglah dulu, aku segera menyusulmu,” kata nenek sang dukun bayi itu.

Towjatuwa pun bergegas kembali ke rumahnya. Sementara itu, sang dukun menyiapkan alat persalinannya, lalu kemudian berangkat ke rumah Towjatuwa. Setiba di sana, ia mendapati istri Towjatuwa menjerit-jerit kesakitan.

“Nek, tolong aku. Perutku sakit sekali,” rintih istri Towjatuwa.

“Tenang, Cucuku,” kata sang dukun.

Nenek dukun itu pun segera memeriksa kondisi istri Towjatuwa. Towjatuwa terlihat semakin resah, ia sangat takut jika terjadi apa-apa pada istrinya.

“Bagaimana keadaannya, Nek? Kenapa istriku belum juga melahirkan?” tanya Towjatuwa.

“Maaf, Towjatuwa. Sepertinya istrimu mendapat masalah. Bayi di dalam kandungan istrimu terlalu besar sehingga susah untuk keluar,” kata dukun itu.

“Lalu, bagaimana cara menolongnya, Nek?” tanya Towjatuwa.

“Aku membutuhkan rumput air dari Sungai Tami,” jawab nenek dukun.

Towjatuwa segera berlari menuju Sungai Tami. Setiba di sana, ia pun langsung mencari rumput air yang dimaksud oleh nenek dukun. Ia sudah mencari ke sana ke mari, namun rumput air itu belum juga ditemukannya. Ketika ia hendak melanjutkan pencarian, tiba-tiba terdengar suara mengerang dari arah belakangnya.

“Hai, suara apa itu!” serunya dengan kaget.

Begitu Towjatuwa menoleh ke belakang, tampaklah seekor buaya besar di belakangnya. Anehnya, punggung buaya itu ditumbuhi bulu-bulu burung kasuari. Buaya itu tampak sangat menyeramkan. Towjatuwa yang ketakutan hendak melarikan diri sebelum dirinya dimangsa oleh buaya itu. Namun, ketika ia mau meninggalkan tempat itu, tiba-tiba langkahnya terhenti oleh sebuah suara teguran.

“Tunggu dulu, Towjatuwa!” seru suara itu.

Towjatuwa pun menghentikan langkahnya dan kemudian menoleh ke arah buaya itu.

“Apakah kamu yang memanggilku?” tanya Towjatuwa heran.

“Benar, Towjatuwa. Akulah yang memanggilmu,” jawab buaya itu, “Namaku Watuwe, penguasa di Sungai Tami ini.”

Alangkah terkejutnya Towjatuwa mendengar jawaban dari buaya itu. Ia seolah-olah tidak percaya bahwa ternyata buaya itu dapat berbicara seperti manusia. Buaya itu tiba-tiba mengerang kesakitan. Ternyata, ekor buaya itu terjepit batu besar. Towjatuwa yang iba melihat penderitaan buaya itu segera menolong dengan memindahkan batu besar yang menjepit ekor Watuwe.

Setelah itu, Towjatuwa berniat pergi untuk melanjutkan pencarian rumput air. Namun, Watuwe kembali menghentikan langkahnya.

“Sebentar, Towjatuwa! Kalau aku boleh tahu, apa yang sedang kamu cari di tempat ini?” tanya Watuwe.

“Aku sedang mencari rumput air untuk membantu kelahiran istriku. Tapi, aku belum menemukannya,” jawab Towjatuwa.

“Jangan khawatir, Towjatuwa,” ujar Watuwe, “Karena engkau telah menolongku, maka aku pun akan menolongmu. Tunggu aku di rumahmu nanti malam.”

“Terima kasih sebelumnya, Watuwe,” ucap Towjatuwa dengan perasaan senang.

Hari sudah sore. Towjatuwa pun bergegas pulang ke rumahnya. Malam harinya, buaya Watuwe datang ke rumah Towjatuwa. Istri Towjatuwa masih tampak kesakitan di atas pembaringan. Perlahan-lahan, buaya yang sakti itu mendekat untuk mengobatinya. Alhasil, dengan kekuatan ajaibnya, istri Towjatuwa pun melahirkan seorang anak laki-laki dengan selamat. Bayi itu diberi nama Narrowra.

“Terima kasih, Watuwe,” ucap Towjatuwa dan istrinya.

“Sama-sama, Towjatuwa. Aku pun berterima kasih karena engkau telah menolongku,” kata Watuwe seraya berpamitan.

Sebelum meninggalkan rumah itu, Watuwe mengatakan sesuatu kepada Towjatuwa tentang anaknya.

“Ketahuilah, Towjatuwa. Kelak anak kalian akan tumbuh menjadi pemburu yang handal,” ungkap Watuwe, “Namun, aku berpesan kepada kalian, tolong jangan pernah membunuh dan memakanku. Jika suatu saat aku mati, ambillah kantung air seniku, lalu bawalah kantung itu ke Gunung Sankria. Di sana, manusia langit telah menanti kalian dan akan memberi petunjuk mengenai apa yang harus kalian lakukan.”

Towjatuwa dan istrinya amat berterima kasih kepada Watuwe karena telah menolong kelahiran anak mereka.

“Istriku, walaupun Watuwe berwujud binatang, ia sangat baik dan penyayang. Entah apa yang dapat kita perbuat untuk membalas budi baiknya kepada kita,” kata Towjatuwa kepada istrinya.

“Satu-satu cara yang bisa kita lakukan untuk membalas kebaikannya adalah mengingat dan melaksanakan semua pesannya,” ujar sang istri.

“Kamu, benar istriku,” kata  Towjatuwa.

Sejak itulah, Towjatuwa dan keturunannya selalu melindungi buaya ajaib itu serta buaya-buaya lainnya yang berada di Sungai Tami.



Demikian cerita Buaya Ajaib Sungai Tami dari Jayapura, Papua. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa hidup saling tolong-menolong antarsesama makhluk seperti Towjatuwa dengan si buaya ajaib, Watuwe, akan mendatangkan ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan di muka bumi. 

CERITA RAKYAT PAPUA : Danau Walait yang Keramat

Danau Walait terletak di daerah Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Menurut cerita, danau ini terkenal angker sehingga suku Walait yang tinggal di sekitarnya tidak berani untuk mendekatinya. Ada apa di danau itu sehingga dikeramatkan? Simak kisahnya dalam cerita Danau Walait yang Keramat berikut ini!

Dahulu, di Lembah Baliem hiduplah sebuah suku yang bernama suku Walait. Lembah Baliem yang berada di puncak Gunung Jayawijaya ini dikelilingi oleh hamparan hutan lebat. Di dalam hutan itu banyak terdapat binatang buas, terutama babi hutan. Itulah sebabnya, sebagian besar warga suku Walait bekerja sebagai pemburu babi hutan. Sebagian hasil tangkapannya dimakan untuk lauk sehari-sehari, dan sebagian yang lain untuk diternakkan.

Di antara penduduk suku Waliat ada seorang gadis bernama Jelita. Ia hanya tinggal bersama dengan ayahnya karena ibunya telah meninggal dunia. Sehari-harinya, gadis cantik itu bekerja sebagai penggembala babi, sedangkan sang Ayah pergi ke hutan untuk mencari kayu, umbi-umbian, dan hasil hutan lainnya.

Sang Ayah selalu berpesan kepada Jelita agar tidak menggembalakan babi di sekitar Danau Walait yang berada tidak jauh permukiman penduduk.

“Jelita, putriku! Jangan sekali-kali kamu menggembalakan babi di sekitar danau itu!” ujar sang Ayah.

“Baik, Yah,” jawab si Jelita.

Suatu hari, Jelita lupa pada pesan ayahnya. Ia membiarkan babinya berkeliaran di sekitar Danau Walait. Rerumputan di sekitar danau itu memang tumbuh subur dan hijau karena tak seorang pun yang berani menggembalakan babi di sana. Sambil menunggu babi peliharaannya merumput, gadis cantik itu duduk berteduh di bawah sebuah pohon. Tak berapa lama kemudian, babi-babinya tiba-tiba mati bergelimpangan setelah memakan sesuatu di tepi danau itu. Melihat kejadian tersebut, Jelita menjadi panik.

“Aduh, Ayah pasti akan marah sekali jika mengetahui hal ini,” gumam si Jelita.

Dengan perasaan takut, Jelita pulang ke rumah untuk memberitahukan kejadian itu kepada ayahnya. Sang Ayah mendengar kabar buruk itu pun menjadi murka.

“Dasar anak tidak bisa diatur!” hardik sang Ayah, ”Ayah sudah melarangmu menggembala di sana, tapi kamu tidak mendengar nasehat Ayah. Pergi dari rumah ini!”

“Maafkan Jelita, Ayah! Jelita benar-benar lupa pada nasehat Ayah. Ampun Ayah, jangan usir Jelita! Jelita tidak punya siapa-siapa lagi selain Ayah,” rengek Jelita di hadapan ayahnya.

Meskipun Jelita sudah merengek-rengek, sang Ayah tetap mengusirnya. Dengan hati yang hancur, gadis yang malang itu pun pergi meninggalkan rumahnya. Karena bingung harus pergi ke mana, ia pun memutuskan untuk pergi ke Danau Walait. Di pinggir danau itu, ia duduk termenung memikirkan nasibnya yang malang.

“Ya, Tuhan! Tak ada gunanya lagi hamba hidup di dunia ini. Hamba tidak memiliki siapa-siapa lagi,” keluh gadis itu.

Usai berkata demikian, Jelita mencebur ke dalam Danau Walait. Atas kuasa Tuhan, ia berubah menjadi seekor ikan mungil. Sejak itulah, itulah gadis yang telah berbuah menjadi ikan itu hidup di danau itu.

Sementara itu, di seberang Danau Walait, tinggal pula sebuah suku bernama Akeima yang dipimpin oleh Hulogolik. Jumlah wanita di suku Akeima ketika itu masih sedikit sehingga banyak laki-laki yang belum menikah, termasuk Hulogolik. Suatu ketika, Hulogolik pergi bertapa di sebuah gua untuk meminta kepada Dewata agar dianugerahi seorang istri untuk melanjutkan keturunannya. Ketika ia asyik bersemedi, tiba-tiba ia mendengar suara bisikan di telinganya.

“Wahai, Hulogolik. Jika kamu mendapatkan istri, usirlah suku Walai yang ada di sekitar Danau Walait!” seru suara itu.

Hulogolik pun menuruti pesan gaib itu. Bersama dengan warga sukunya, Hulogolik memerangi suku Waliat dan berhasil mengusir mereka dari tempat itu. Karena kelelahan, kepala suku itu beristirahat di bawah sebuah pohon di tepi Danau Walait hingga terlelap. Dalam lelapnya, ia mendapat perintah dari Dewa agar mencopot kepalanya.

“Wahai, Hulogolik. Penggallah kepalamu hingga terpisah dari tubuhmu. Setelah itu, masuklah ke dalam Danau Walait!” seru sang Dewa.

Begitu terbangun, Hulogolik segera menuruti perintah itu. Dengan tubuh tanpa kepala, ia segera mencebur ke dalam danau. Ikan-ikan yang ada di dalam danau itu pun masuk ke dalam tubuhnya hingga penuh. Setelah kembali ke darat, Hulogolik mengeluarkan semua ikan yang ada di tubuhnya ke rerumputan. Setelah itu, kepala dan tubuhnya kembali menyatu. Ajaibnya, ikan-ikan tersebut tiba-tiba menjelma menjadi gadis-gadis yang cantik jelita. Rupanya, ikan-ikan tersebut merupakan penjelmaan gadis-gadis yang sering hilang di sekitar Danau Walait. Akhirnya, Hulogolik membawa pulang gadis-gadis itu ke kampungnya untuk dinikahinya dan juga orang-orang sukunya yang memang banyak yang belum beristri.

Namun, tanpa sepengetahuan Hulogolik, salah seorang anak buahnya memperhatikan tingkah lakunya saat ia mencebur ke dalam Danau Walait. Keesokan harinya, warga itu ingin melakukan seperti yang dilakukan oleh Hulogolik dengan meminta bantuan kepada roh jahat.

“Baiklah, aku akan membantumu, tapi dengan syarat kamu harus membujuk Hulogolik untuk kembali memerangi suku Walait,” ujar roh jahat itu.

Warga itu menyanggupi persyaratan itu. Alhasil, ia berhasil membujuk kepala sukunya itu sehingga peperangan antara dua suku pun kembali berkobar. Peperangan itu memakan banyak korban. Setelah perang tersebut selesai, anak buah Hulogolik itu mendekati Danau Walait dan melakukan seperti melakukan seperti yang dilakukan oleh tuannya.

Namun, tanpa ia sadari pula, ternyata ada seorang warga lain yang mengintipnya dari balik semak-semak. Begitu ia mencebur ke danau tanpa kepala, warga yang mengintip itu mengambil kepalanya dan cepat-cepat pergi. Ketika anak buah Hulogolik itu kembali darat, kepalanya sudah tidak ada. Pada saat itulah, ia tiba-tiba menjelma menjadi seekor ular raksasa.

Sang Dewa yang mengetahui peristiwa itu menjadi murka kepada Hulogolik karena lalai mengawasi warganya.

“Hai, Hulogolik! Kenapa kamu menyerang suku Walait tanpa melalui perintahku? Karena kamu telah bertindak sewenang-wenang, maka sebagai hukuman jasadmu kelak tidak akan membusuk sampai kapan pun,” ujar sang Dewa dalam mimpi Hulogolik.

Alangkah terkejutnya Hulogolik saat terbangun. Ia baru menyadari bahwa dirinya telah termakan hasut oleh anak buahnya itu. Namun, apa boleh, buat nasi sudah menjadi bubur. Hulogolik tinggal menunggu hukuman itu setelah ia mati kelak.

Sementara itu, isti Hulogolik telah berkumpul kembali dengan keluarganya. Saat mereka berbincang-bincang, tiba-tiba ada orang yang menyinggung perihal hilangnya seorang warga di Danau Walait. Ia juga mengakui bahwa dirinyalah yang memisahkan kepala dan tubuh anak buah Hulogolik itu.

Mendengar cerita itu, cepat-cepatlah Hulogolik berlari menuju ke Danau Walait. Setiba di tepi danau, tiba-tiba seekor ular raksasa menyerangnya. Saking cepatnya serangan ular itu sampai-sampai Hulogolik tidak sempat menghindar. Akhirnya, kepala suku Akeima itu pun tewas. Tubuhnya pun mengeras dan berwarna hitam. Karena tak seorang pun warga yang menyaksikan peristiwa itu, jasad Hulogolik masih terapung-apung di tengah danau itu hingga berhari-hari.

Warga yang berada di perkampung pun mulai cemas karena kepala suku mereka tidak pulang-pulang. Istri Hulogolik pun mengerahkan seluruh warga untuk mencarinya ke Danau Walait. Melihat kedatangan orang-orang, ular naga segera membuat lubang besar di dasar danau dan bersembunyi di dalamnya. Ia takut keluar karena itu akan membahayakan dirinya.

Sementara itu, para warga yang baru tiba di tempat itu dikejutkan oleh sesosok tubuh sedang terapung-apung di tengah danau.

“Hai lihat, bukankah itu jasad Hulogolik?” teriak salah seorang warga.

“Iya, sepertinya benar,” sahut istri Hulogolik.

Beberapa warga segera berenang ke tengah danau untuk mengambil jasad Hulogolik. Tak berapa lama kemudian, para warga itu kembali ke darat dengan membopong jasad kepala suku mereka. Mereka kemudian membawa pulang mayat itu ke perkampungan untuk disemayamkan di sebuah honay (rumah adat orang Papua). Sungguh ajaib, mayat honay itu benar-benar tidak pernah membusuk.



Demikian cerita Danau Walait yang Keramat dari Provinsi Papua. Cerita di atas termasuk kategori mitos yang di dalamnya terkandung pesan-pesan moral. Salah satunya adalah bahwa seorang anak harus menuruti nasehat orang tua agar orang tua tidak murka kepada kita. Demikian pula sebagai orang tua, semurka-murkanya kepada anak hendaknya tidak terlalu berlebihan seperti mengusirnya dari rumah karena akan mendatangkan musibah yang lebih besar.

CERITA RAKYAT PAPUA : Legenda Batu Keramat

Batu Keramat terletak di atas Gunung Kamboi Rama, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, Indonesia. Setiap setahun sekali, masyarakat setempat mengadakan upacara pemujaan terhadap batu keramat itu. Mengapa mereka mengeramatkan dan memuja batu itu? Siapakah yang pertama kali menemukannya? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Legenda Batu Keramat berikut.

Alkisah, di daerah Yapen Timur, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, Indonesia, terdapat sebuah gunung bernama Kamboi Rama. Di atas gunung itu terdapat dua dusun, yaitu Dusun Kamboi Rama yang dihuni oleh sekelompok manusia, dan Dusun Aroempi yang ditumbuhi tanaman sagu milik seorang raja tanah yang bergelar Dewa Iriwonawani. Dewa Iriwonawani juga memiliki sebuah tifah atau gendang gaib yang diberi nama sikerei atau soworoi. Jika gendang itu berbunyi, para penduduk Dusun Kamboi Rama berkumpul di Dusun Aroempi untuk menyaksikan gendang itu. Namun, tidak semua penduduk dapat melihat gendang gaib itu, kecuali orang-orang tua yang memiliki kekuatan gaib.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari penduduk Kamboi Rama, kaum perempuan mencari sagu di Dusun Aroempi milik Dewa Irowonawani, sedangkan kaum laki-laki mencari lauk sagu dengan cara menangkap hewan di hutan. Setiap hari, perempuan Kamboi Rama secara berombongan berangkat ke Dusun Aroempi untuk mencari sagu. Sebelum menebang pohon sagu, terlebih dahulu mereka mengadakan upacara penghormatan kepada Dewa Irowonawani agar mereka bisa memperoleh inti atau sari sagu yang bagus dan dapat menyehatkan tubuh.

Pohon sagu yang sudah ditebang mereka kuliti batangnya untuk mendapatkan sagu yang berada di dalamnya. Sagu tersebut mereka tumbuk dengan menggunakan pangkur[1]. Sesuai dengan nama alat yang digunakan, proses menumbuk sagu ini dikenal dengan istilah memangkur. Sagu yang telah ditumbuk menghasilkan ampas sagu, yaitu mirip dengan ampas kelapa. Kemudian, ampas sagu tersebut mereka beri air lalu memerasnya ke dalam wadah dari belahan bambu. Air perasan tersebut mereka biarkan beberapa saat agar inti sagu mengendap di dasar wadah. Setelah inti sagu mengendap, merekap pun membuang airnya. Kemudian, endapan inti sagu tersebut mereka bentuk seperti bola tenis atau memanjang seperti lontong, lalu menyimpannya ke dalam tumang, yaitu keranjang yang terbuat dari rotan. Setelah itu, mereka membawanya pulang dengan cara menggendongnya di punggung. Begitulah pekerjaan kaum perempuan penduduk Dusun Kamboi Rama setiap hari.

Lama-kelamaan pohon sagu di Dusun Kamboi Rama semakin berkurang. Melihat keadaan itu, Dewa Iriwonawani pun murka. Ia memindahkan tanaman sagunya ke daerah lain. Karena takut mendapat murka dari Dewa Iriwonawani, penduduk Dusun Kamboi Rama memutuskan pindah ke daerah pantai dan mendirikan tempat tinggal baru yang diberi nama Randuayaivi. Terkecuali sepasang suami-istri yang masih tetap tinggal di atas gunung tersebut bersama Dewa Iriwonawai. Sepasang suami-istri tersebut bernama Irimiami dan Isoray. Untuk bertahan hidup, mereka berburu rusa di hutan dan menanam umbi-umbian di ladang.

Pada suatu hari, sepulang dari ladang, Irimiami dan Isoray sedang beristirahat di bawah sebuah pohon yang rimbun. Irimiami duduk sambil menyandarkan tubuhnya pada batang pohon, sedangkan Isoray duduk di atas sebuah batu besar yang berada di bawah pohon itu. Di tengah asyik beristirahat, tiba-tiba Isoray berteriak memekik dan melompat dari batu itu.

“Aduh, Kakak..! Panas... panas... panas...!” pekik Isoray sambil mengusap-usap bokongnya.

“Apa yang terjadi denganmu, istriku?” tanya Irimiami.

“Entahlah, Kakak! Tiba-tiba batu itu menjadi panas,” jawab Isoray dalam keadaan panik.

Beberapa saat kemudian, batu itu tiba-tiba mengeluarkan kepulan asap. Karena penasaran, Irimiami pun mencoba duduk di atas batu. Begitu menduduki batu itu, ia pun berteriak memekik sama seperti istrinya. Ia semakin penasaran ingin mencoba tingkat kepanasan batu itu. Ia mengambil daging rusa hasil buruannya dan meletakkannya di atas batu itu. Tak berapa lama kemudian, terciumlah aroma daging rusa yang mengundang selera makan. Setelah matang, mereka pun segera mengangkat dan mencicipi daging rusa itu.

“Hmmmm... lezatnya daging rusa ini,” gumam Irimiami setelah mencicipi sepotong daging rusa itu.

“Istriku! Coba rasakan daging rusa ini!” seru Irimiami seraya memberi sepotong daging rusa kepada istrinya.

Setelah habis mencicipi sepotong daging rusa itu, Isoray pun ketagihan. Karena lapar setelah hampir seharian berburu, mereka pun menyantap daging rusa itu dengan lahapnya hingga habis. Sejak itu, mereka selalu memasak makanan dengan cara meletakkannya di atas batu itu. Semakin hari batu itu semakin banyak mengeluarkan asap panas. Oleh karena itu, Irimiami dan istrinya semakin penasaran ingin selalu mencoba tingkat kepanasan batu itu.

Irimiami dan istrinya mengambil sebatang bambu, lalu menggosokkannya pada batu itu. Dalam waktu singkat, bambu itu terputus dan gosokan pada bambu itu mengeluarkan percikan api. Setelah itu, mereka mengumpulkan rumput dan daun kering, lalu meletakkannya di atas batu itu. Tak berapa lama kemudian, rumput dan daun itu mengeluarkan gumpalan asap tebal dan panas.

Pada suatu siang yang sangat terik, Irimiami dan istrinya kembali mengumpulkan rumput dan daun kering yang lebih banyak lagi. Rumput dan daun kering tersebut mereka letakkan di atas batu itu. Tak berapa lama mereka menunggu, rumput dan daun kering tersebut terbakar hingga mengeluarkan api yang sangat panas. Melihat kejadian itu, mereka panik dan ketakutan, terutama Isoray.

“Kakak! Apa yang harus kita lakukan? Aku takut terjadi kebakaran di tempat ini,” kata Isoray dengan panik.

Irimiami dan istrinya berusaha untuk memadamkan api di atas batu itu, namun tidak berhasil. Akhirnya, mereka pun segera memohon bantuan kepada Dewa Iriwonawai. Dengan kesaktiannya, Dewa Iriwonawai berhasil memamdamkan api itu. Rupanya, kejadian tersebut tidak membuat Irimiami dan istrinya jera. Mereka terus melakukan percobaan terhadap batu itu. Mereka kembali meletakkan rumput, daun, dan kayu kering yang lebih banyak lagi di atas batu itu. Tak pelak lagi, asap tebal pun mengepul dan api menyala sangat besar dan panas di puncak Gunung Kamboi Rama selama tujuh hari tujuh malam. Mereka kembali panik dan ketakutan. Tak henti-hentinya mereka memohon kepada Dewa Iriwonawai agar memadamkan api tersebut.

Para penduduk Randuayaivi yang berada di pantai pun terkejut ketika menyaksikan kejadian itu. Mereka mengira terjadi kebakaran hutan di atas Gunung Kamboi Rama. Ketika mendengar gendang soworai berbunyi, mereka pun segera berlari menuju ke Gunung Kamboi Rama untuk menyaksikan peristiwa tersebut lebih dekat. Setibanya di atas gunung itu, mereka disambut oleh Irimiami dan Isoray. Irimiami pun menceritakan tentang keajaiban batu itu kepada mereka. Mulanya, para penduduk tidak percaya pada cerita itu. Namun setelah Irimiami dan istrinya menyuruh mereka mencicipi makanan yang telah dipanaskan di atas batu itu, barulah mereka percaya. Sejak itulah, Irimiami dan istrinya menamai batu itu Batu Keramat dan mengajak para penduduk untuk mengadakan pesta adat. Penduduk Randuayaivi pun setuju.

Keesokan harinya, penduduk Kampung Randuayaivi berkumpul di atas Gunung Kamboi Rama untuk mengadakan pesta. Mereka membawa perbekalan seperti keladi, ikan, dan makanan lainnya. Berbagai jenis makanan tersebut mereka letakkan di atas batu keramat. Pesta adat tersebut berlangsung selama tiga hari tiga malam. Irimiami bersama istri dan seluruh penduduk mengelilingi batu keramat itu sambil menari dan memujanya. Selama pesta berlangsung, Irimiami dan istrinya juga menceritakan berbagai peristiwa yang pernah mereka alami kepada seluruh penduduk Kampung Randuayaivi. Hingga saat ini, masyarakat Papua, khususnya yang berada di Kabupaten Kepulauan Yapen, mengeramatkan batu api itu. Mereka percaya bahwa Irimiami dan Isoray adalah orang pertama yang menemukannya. Setahun sekali, mereka mengadakan upacara pemujaan terhadap batu keramat itu.

Demikian cerita Legenda Batu Keramat yang mengisahkan tentang asal-mula pemujaan terhadap batu keramat yang dilakukan oleh masyarakat Papua di atas Gunung Kamboi Rama. Hingga saat ini, setiap setahun sekali mereka memuja batu keramat tersebut melalui sebuah pesta adat, yang kemudian menjadi ajang pertemuan untuk menjalin kebersamaan di antara mereka.